Sholat isya selesai sudah ku tunaikan, bersiap, merapihkan segalanya yang perlu di bawa, hp dan dompet jangan ketinggalan, kalo hp sih ga papa ketinggalan, paling juga besok ada yang sedikit berisik. Tapi kalo dompet yang ketinggalan bisa repot, repot kalo mau beli minum atau makan, lebih repot lagi kalo ketangkep polisi yang iseng di jalanan, soalnya tanggal begini polisi lagi ngejar target closing akhir taon, wtf. Kembali lagi ke masalah semula, tas sudah siap motor sudah di panasin, mata sudah siap melek melototin jalanan, go.. this is day or night i dont care.
Terkadang hal seperti ini menjadi biasa di saat pekerjaan sedang rame atau di ramein, ngejar sesuatu yang sebenarnya tidak perlu di kejar, mburu sesuatu yang sebenarnya tidak perlu di buru juga bakal bisa ketangkep. Itulah kehidupan banyak hal yang tidak jelas yang terpaksa atau di paksa untuk di lakukan.
Tujuan hidup sebenarnya kebanyakan orang sudah tau, namun pada pura-pura bego untuk ngejar tujuan itu, kebanyakan orang itu lebih suka pura-pura ngelakuin hal-hal yang mereka sendiri tau itu tidak perlu untuk di lakuin, aneh ya... kadang aku juga begitu, atau barangkali sering begitu. Kalo kamu gimana?
Sudahlah, hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang yang tidak terlalu panjang dari perjalanan yang sebenarnya. Hidup ini mengejar untuk akhir hidup, mengejar perjalanan panjang setelah perjalanan singkat ini, pikirkanlah itu. Jangan lagi kau pedulikan siang atau malam, siang atau malam itu sama saja, siang itu seperti malam dan malam itu seperti siang, sedikit sekali bedanya. Yang penting pikirkanlah bagaimana caranya kita nanti melanjutkan perjalanan setelah perjalan ini.
Monday, December 12, 2011
Friday, July 1, 2011
Semoga Ada Hikmahnya
Malam ini udara begitu sejuk, malam begitu tenang, namun nyamuk begitu mengganggu. Buruk situasi hatiku malam ini, bukan lantaran gigitan nyamuk di mala yang sejuk ini, tapi sama sekali tidak ada hubungannya. Kurasakan hati dan pikiran ini mulai berontak dengan keadaan, dengan situasi yang semakin lama semakin memburuk, sangat buruk malam ini, pusing, bingung dan mungkin hapir gila.
Hm... masalah ini memang selalu kembali pada diri sendiri, aku tak bisa menyalahkan orang lain, orang di sekitarku, atau siapapun itu, ya semua adalah diriku sendiri. Permasalahan yang muncul hingga saat ini karena ulahku, karena sikap perbuatan dan semua dosaku, itulah yang menjalari sel sel di pikiranku. Pusing bener bener pusing, kepala rasanya pusing, ku hanya bisa berteriak sendiri, membanting dan memukul diri sendiri, kondisi ini begitu buruk, mampet pikiran ini dengan segala emosi.
Aku merasa sangat jauh, hingga sangat malu untuk memohon sebuah pertolongan, aku hendak meminta maaf dan kemudian meminta pertolongan, tapi aku sangat malu. Aku hanya diam merasakan belitan permasalahan. Kemudian aku berfikir, untuk hanya memohon, lagi lagi rasa malu itu datang menyerang lebih dahsyat, sangat malu, aku terdiam kembali merasakan sakit dari semua ini.
Biarlah semua ini aku yang merasakannya sendiri, selalu sendiri, bahkan tak ada yang peduli dan dengan semua sakitku ini. Ya Alloh berikanlah ampunanmu atas semua kebodohannku, amin...
Hm... masalah ini memang selalu kembali pada diri sendiri, aku tak bisa menyalahkan orang lain, orang di sekitarku, atau siapapun itu, ya semua adalah diriku sendiri. Permasalahan yang muncul hingga saat ini karena ulahku, karena sikap perbuatan dan semua dosaku, itulah yang menjalari sel sel di pikiranku. Pusing bener bener pusing, kepala rasanya pusing, ku hanya bisa berteriak sendiri, membanting dan memukul diri sendiri, kondisi ini begitu buruk, mampet pikiran ini dengan segala emosi.
Aku merasa sangat jauh, hingga sangat malu untuk memohon sebuah pertolongan, aku hendak meminta maaf dan kemudian meminta pertolongan, tapi aku sangat malu. Aku hanya diam merasakan belitan permasalahan. Kemudian aku berfikir, untuk hanya memohon, lagi lagi rasa malu itu datang menyerang lebih dahsyat, sangat malu, aku terdiam kembali merasakan sakit dari semua ini.
Biarlah semua ini aku yang merasakannya sendiri, selalu sendiri, bahkan tak ada yang peduli dan dengan semua sakitku ini. Ya Alloh berikanlah ampunanmu atas semua kebodohannku, amin...
Friday, June 24, 2011
Manusia Macam Apa
Kenapa semua ini terjadi, semua yang terjadi hanya aku yang merasakan, tidak ada yang mengerti. Tak pernah kuceritakan, isihatiku, perasaanku kepada siapapun, biarlah ini mejadi rahasia kehidupanku sendiri. Biarlah hanya Tuhan yang tahu apa yang kualami. Aku hanya akan tetap berusaha, berdoa, berpasrah dan bersyukur atas semuanya, berikanlah aku kesabaran ya Alloh, amin.
Saturday, May 14, 2011
Ingin Pulang
Malam minggu yang sepi, menjelang maghrib hujan turun rintik-rintik, gelap, sedikit terang makin lama makin deras, makin lama makin malam. Hujan begitu derasnya bebarengan dengan lantunan adzan maghrib. Aku sedang menunggu untuk sholat maghrib, dengan tubuh lelah dan merebah. Usai sholat maghrib mata terasa berat, seharian bekerja walaupun tidak terlalu berat tapi begitu jauhnya perjalanan menjadikan benar-benar berat di kala sampai di rumah. Tertidur sudah tubuh ini secara tidak sengaja karena begitu lelahnya, karena begitu sepinya hati ini dan suasana memang benar benar sepi dan dingin malam ini, sehabis hujan.
Pukul sembilan ku terbangun dan tergaket, ternyata lelah telah menidurkan raga ini hingga benar-benar tak sadarkan diri, perut terasa dingin dan lapar, ah... aku juga belum sholat isya tentunya, tidur ini begitu enak hingga melupakan semuanya.
Usai isya ku berjalan menyusuri gang untuk mengisi perut yang lapar tak terkira, aku tak sanggup bila harus tertidur menahan lapar untuk ke sekian kalinya, kali ini bergitu dingin dan berat untuk melakukan yang biasa aku lakukan seperti itu, biarlah aku berjalan untuk mengisi perutku ini.
Rumah kontrakan begitu sepi pukul sepuluh malam, angin dingin bekas hujan seolah menyapu semua penghuni kampung, ke kasur dan kamar tidur masing-masing. Aku berjalan sendiri dari tadi tak kutemui seorangpun hingga sampai di rumah. Suara katak dan rombongan serangga menggoda seolah membawaku ke beberapa tahun silam ketika masih berkumpul dengan orang tua dan saudara, ketika masih bujangan belum menikah semua.
Mundur ke sebelas tahun yang lalu, ketika masih anak anak, ketika masih smp dan ketika masih sma. Rumah papan yang indah dan selalu ramai itu tak bisa terlupakan oleh kerasnya jakarta yang setiap hari ku lewati kujalani dan bikin pusing semua orang. Rumah papan itu yang aku dilahirkan dan dibesarkan disana keindahannya kini muncul kembali malam ini, oleh suara serangga dan katak sehabis hujan.
Dulu sehabis hujan suasana dingin membawaku untuk duduk sendiri di depan rumah papan itu, di kursi dari bambu yang hanya di bentangkan dan di paku kanan kiri itu, kadang di kursi kayu dari pohon yang besar yang di potong begitu saja dan di taruh di depan rumah dilengkapi batu empat biji agar tidak goyah, di situ ku habiskan malam dingin sehabis hujan, di depan rumah papan sewaktu kecil. Ku lamunkan apa yang melintas di pikiranku, cita-cita, obsesi, keinginan, sesuatu yang tak mungkin terjadi, sesuatu yang sudah terjadi, penyesalan, kegembiraan, naksir anak tetangga, rencana main bola, semua terjadi di kursi bambu dan kadang di kursi kayu asal-asalan itu. Malam begitu indah kurasakan, seolah tak ingin masuk rumah jika sudah begitu. Indah benar benar indah, memikirkan sesuatu asal-asalan di malam yang dingin, bersama suara serangga dan katak yang menghibur hati.
Kapan situasi seperti itu bisa terjadi kembali, mungkinkah, mana mungkin, bisa mungkin, pusinglah malam ini aku tak tahu, aku ingin situasi itu mungkin terjadi lagi.
Pukul sembilan ku terbangun dan tergaket, ternyata lelah telah menidurkan raga ini hingga benar-benar tak sadarkan diri, perut terasa dingin dan lapar, ah... aku juga belum sholat isya tentunya, tidur ini begitu enak hingga melupakan semuanya.
Usai isya ku berjalan menyusuri gang untuk mengisi perut yang lapar tak terkira, aku tak sanggup bila harus tertidur menahan lapar untuk ke sekian kalinya, kali ini bergitu dingin dan berat untuk melakukan yang biasa aku lakukan seperti itu, biarlah aku berjalan untuk mengisi perutku ini.
Rumah kontrakan begitu sepi pukul sepuluh malam, angin dingin bekas hujan seolah menyapu semua penghuni kampung, ke kasur dan kamar tidur masing-masing. Aku berjalan sendiri dari tadi tak kutemui seorangpun hingga sampai di rumah. Suara katak dan rombongan serangga menggoda seolah membawaku ke beberapa tahun silam ketika masih berkumpul dengan orang tua dan saudara, ketika masih bujangan belum menikah semua.
Mundur ke sebelas tahun yang lalu, ketika masih anak anak, ketika masih smp dan ketika masih sma. Rumah papan yang indah dan selalu ramai itu tak bisa terlupakan oleh kerasnya jakarta yang setiap hari ku lewati kujalani dan bikin pusing semua orang. Rumah papan itu yang aku dilahirkan dan dibesarkan disana keindahannya kini muncul kembali malam ini, oleh suara serangga dan katak sehabis hujan.
Dulu sehabis hujan suasana dingin membawaku untuk duduk sendiri di depan rumah papan itu, di kursi dari bambu yang hanya di bentangkan dan di paku kanan kiri itu, kadang di kursi kayu dari pohon yang besar yang di potong begitu saja dan di taruh di depan rumah dilengkapi batu empat biji agar tidak goyah, di situ ku habiskan malam dingin sehabis hujan, di depan rumah papan sewaktu kecil. Ku lamunkan apa yang melintas di pikiranku, cita-cita, obsesi, keinginan, sesuatu yang tak mungkin terjadi, sesuatu yang sudah terjadi, penyesalan, kegembiraan, naksir anak tetangga, rencana main bola, semua terjadi di kursi bambu dan kadang di kursi kayu asal-asalan itu. Malam begitu indah kurasakan, seolah tak ingin masuk rumah jika sudah begitu. Indah benar benar indah, memikirkan sesuatu asal-asalan di malam yang dingin, bersama suara serangga dan katak yang menghibur hati.
Kapan situasi seperti itu bisa terjadi kembali, mungkinkah, mana mungkin, bisa mungkin, pusinglah malam ini aku tak tahu, aku ingin situasi itu mungkin terjadi lagi.
Friday, May 6, 2011
Indah Dunia
Bagiku keluargaku adalah segalanya, mereka semua menjadi penyemangat kehidupanku, memandang anakku menyenangkan hatiku memandang istriku hilang kesepianku. Indahnya bila bersama mereka. Sudah seminggu lebih mereka tidak disisiku, hm... sepi rasanya rumah ini, sepi juga rasanya hati ini. Bikin malas ini susah pergi, bikin ngantuk ini datang lagi, jadinya ya cuman tiduran gak berguna, dari pagi sampe sore hari dikala hari libur seperti ini, sungguh berbeda situasinya dengan seminggu yang lalu, ketika semua masih lengkap ada di rumah ini.
Ini akan berlangsung lama, dua bulan kira-kira, apakah dua bulan juga aku akan merana, oh, sedihnya jika ini terjadi padaku. Mulai-mulai saja aku berusaha membohongi diriku dengan menatap foto-foto anak istriku di komputer, ah tidak bisa, tetap saja sepi yang kurasa. Ku coba lagi menipu perasaanku dengan memutar lagu MP3 koleksiku, tetep saja cuma bikin berisik telinga, yang ada tetangga sewot dan marah-marah ntar jadinya. Huft. Hampir putus asa berusaha menghilangkan rasa sepi yang menyerang bertubi-tubi. Aha.. banyak pakaian kotor, nyuci saja kalo begitu.
Sedikit berhasil menghilangkan rasa sendiri ini dengan berbagai aktifitas di rumah, nyuci, nyapu, masak air, aih..ini macam ibu-ibu saja lama-lama. Lanjut lagi ngepel, ngusir nyamuk-nyamuk nakal, buang sampah... hilang sudah rasa sepi ini.
Beranjak siang semua sudah kulakukan, aku berfikir kembali apalagi yang bisa kulakukan. hm..??? Ah coba saja mikirin ide-ide, cari cara, cari-cari masalah, pemecahannya, solusinya, apalagi? Ah akhir-akhir ini banyak waktuku yang luang, manfaatin aja buat hobi, hobiku apa yah? Koomputer, internet, IT, elektronika, programming, futsal, olahraga, baca buku, jalan-jalan ke kampung, maen ke rumah temen, ah itu saja dulu hal yang bisa menyenangkanku cukup itu saja kutuliskan.
Mulai ku temukan gaya permainanku di kala sepi di tinggal anak istri. Ya jalanin saja hobi-hobi, jalanin saja hal yang bisa memuaskan diri, menyenangkan fikiran, menambah ilmu hilangkan depresi, lupakan pekerjaan yang menyebalkan (menyebalkan atasanya, bukan pekerjaannya), lupakan wajah-wajah idiot supervisor, ah lupakan itu, ingat yang positif saja, ini baru diriku, yag sudah seminggu hilang, kabur seperti orang sakit jiwa yang kabur dari sarangnya di RSJ.
Ku temukan diriku kembali, ku temukan gaya permainan terbaikku kembali, kususun jadwal waktu kosongku, ku isi dengan hobi, ku isi dengan kesukaanku, semua terasa segar, semua terasa ku suka, ah indahnya dunia, semoga bisa berlangsung lama kebohongan ini, berlangsunglah yang lama, selama mereka tidak disini tidak apalah.
Ini akan berlangsung lama, dua bulan kira-kira, apakah dua bulan juga aku akan merana, oh, sedihnya jika ini terjadi padaku. Mulai-mulai saja aku berusaha membohongi diriku dengan menatap foto-foto anak istriku di komputer, ah tidak bisa, tetap saja sepi yang kurasa. Ku coba lagi menipu perasaanku dengan memutar lagu MP3 koleksiku, tetep saja cuma bikin berisik telinga, yang ada tetangga sewot dan marah-marah ntar jadinya. Huft. Hampir putus asa berusaha menghilangkan rasa sepi yang menyerang bertubi-tubi. Aha.. banyak pakaian kotor, nyuci saja kalo begitu.
Sedikit berhasil menghilangkan rasa sendiri ini dengan berbagai aktifitas di rumah, nyuci, nyapu, masak air, aih..ini macam ibu-ibu saja lama-lama. Lanjut lagi ngepel, ngusir nyamuk-nyamuk nakal, buang sampah... hilang sudah rasa sepi ini.
Beranjak siang semua sudah kulakukan, aku berfikir kembali apalagi yang bisa kulakukan. hm..??? Ah coba saja mikirin ide-ide, cari cara, cari-cari masalah, pemecahannya, solusinya, apalagi? Ah akhir-akhir ini banyak waktuku yang luang, manfaatin aja buat hobi, hobiku apa yah? Koomputer, internet, IT, elektronika, programming, futsal, olahraga, baca buku, jalan-jalan ke kampung, maen ke rumah temen, ah itu saja dulu hal yang bisa menyenangkanku cukup itu saja kutuliskan.
Mulai ku temukan gaya permainanku di kala sepi di tinggal anak istri. Ya jalanin saja hobi-hobi, jalanin saja hal yang bisa memuaskan diri, menyenangkan fikiran, menambah ilmu hilangkan depresi, lupakan pekerjaan yang menyebalkan (menyebalkan atasanya, bukan pekerjaannya), lupakan wajah-wajah idiot supervisor, ah lupakan itu, ingat yang positif saja, ini baru diriku, yag sudah seminggu hilang, kabur seperti orang sakit jiwa yang kabur dari sarangnya di RSJ.
Ku temukan diriku kembali, ku temukan gaya permainan terbaikku kembali, kususun jadwal waktu kosongku, ku isi dengan hobi, ku isi dengan kesukaanku, semua terasa segar, semua terasa ku suka, ah indahnya dunia, semoga bisa berlangsung lama kebohongan ini, berlangsunglah yang lama, selama mereka tidak disini tidak apalah.
Wednesday, May 4, 2011
Berdosakah...
Emosiku semakin memuncak, ga tau kenapa hari hari ini aku seperti tidak terkendali, ingin marah, benci, muak, ingin teriak, ingin bercerita, ingin mengeluh, aduhh ada apa ini, aku serasa tidak bisa mengendalikan diri ini, ya robb tolonglah... Bingung sendiri, sedih sendiri, tidak ada teman bercerita, tidak ada yang mengingatkan, pusing sendiri sadar sendiri, lalu marah lagi reda sendiri, lalu emosi sendiri dan lelah sendiri, semua kurasakan dan kulakukan sendiri.
Aku hanya berfikir kenapa semua ini bisa terjadi padaku, namun aku serasa berdosa berfikir seperti itu, kemudian tersenyum sendiri, ya sudahlah aku syukuri saja hidup ini. Hanya sekejap perasaan tenang datang, perasaan tidak enak kembali menyerang lebih lama dan lebih kerasan di tubuh ini. Aduh... dosakah aku untuk berkata aduh, mulutku terasa tidak terkendali, terkalahkan emosi, terkalahkan rasa ingin marah, aduh.. mulutku kembali tak mau dikendalikan, dan bicara begitu lagi.
Malam ini kulalui tanpa siapapun di dekatku, malam kemarin pun begitu, malam esok entahlah tapi 98 persen aku yakin akan seperti malam ini yang sepi dan sendiri, merasakan rasa tidak enak ini sendiri. Dosakah aku, tubuhku ini serasa tak terkendali, hati, fikiran, mata telinga, kaki tangan, ujung rambutku pun tak terkendali.
Ada satu sebab mengapa aku begini, namun aku tak kuasa untuk berbuat, aku tak kuasa untuk mencegah, rasa takut membuatku begini, intimidasi dari orang dekat, ancaman gagal dimasa depan yang menakutkan, aduh, kembali mulut ini tidak terkendali dan ngomong sendiri.
Marah aku pada diriku sendiri, marah aku pada orang disampingku, marah aku pada orang yang jauh dariku, aku marah pada semuanya. Berdosakah aku yang tidak terkendali ini?
Ingin ku tumpahkan air mata ini, namun logikaku mengatakan tidaklah pantas, perasaanku berontak untuk mngeluarkan air mata, logika berontak untuk berhenti bersedih dan lakukan apa yang bisa aku lakukan, mereka berdua bertengkar sendiri dan membiarkanku larut dalam kebingungan diriku sendiri, oh sungguh ingin ku mengatakan pusing, tapi aku malu dan takut akan ketagihan mengatakan itu kembali. Ingin ku bagi tubuh ini, seandainya ku mampu biar mereka berdua berjalan sendiri sendiri, tapi tidaklah Alloh menciptakan yang ada adalah yang terbaik namun kita tidak mengetahuinya.
Hanya satu tempat kita kembali, jika sudah seperti ini, akhirilah semuanya sekarang juga, atau biarkan semua tetap berjalan, tapi tetaplah diri ini harus kembali padanya.
Jika aku berdosa ampunilah aku ya Alloh, aku merasa tak mampu menahan semua ini, hanya pertolonganmu saja yang bisa membawaku ke jalanMu, astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah hal adziim, sesungguhnya Engkau maha pengampun segala dosaku.
Aku hanya berfikir kenapa semua ini bisa terjadi padaku, namun aku serasa berdosa berfikir seperti itu, kemudian tersenyum sendiri, ya sudahlah aku syukuri saja hidup ini. Hanya sekejap perasaan tenang datang, perasaan tidak enak kembali menyerang lebih lama dan lebih kerasan di tubuh ini. Aduh... dosakah aku untuk berkata aduh, mulutku terasa tidak terkendali, terkalahkan emosi, terkalahkan rasa ingin marah, aduh.. mulutku kembali tak mau dikendalikan, dan bicara begitu lagi.
Malam ini kulalui tanpa siapapun di dekatku, malam kemarin pun begitu, malam esok entahlah tapi 98 persen aku yakin akan seperti malam ini yang sepi dan sendiri, merasakan rasa tidak enak ini sendiri. Dosakah aku, tubuhku ini serasa tak terkendali, hati, fikiran, mata telinga, kaki tangan, ujung rambutku pun tak terkendali.
Ada satu sebab mengapa aku begini, namun aku tak kuasa untuk berbuat, aku tak kuasa untuk mencegah, rasa takut membuatku begini, intimidasi dari orang dekat, ancaman gagal dimasa depan yang menakutkan, aduh, kembali mulut ini tidak terkendali dan ngomong sendiri.
Marah aku pada diriku sendiri, marah aku pada orang disampingku, marah aku pada orang yang jauh dariku, aku marah pada semuanya. Berdosakah aku yang tidak terkendali ini?
Ingin ku tumpahkan air mata ini, namun logikaku mengatakan tidaklah pantas, perasaanku berontak untuk mngeluarkan air mata, logika berontak untuk berhenti bersedih dan lakukan apa yang bisa aku lakukan, mereka berdua bertengkar sendiri dan membiarkanku larut dalam kebingungan diriku sendiri, oh sungguh ingin ku mengatakan pusing, tapi aku malu dan takut akan ketagihan mengatakan itu kembali. Ingin ku bagi tubuh ini, seandainya ku mampu biar mereka berdua berjalan sendiri sendiri, tapi tidaklah Alloh menciptakan yang ada adalah yang terbaik namun kita tidak mengetahuinya.
Hanya satu tempat kita kembali, jika sudah seperti ini, akhirilah semuanya sekarang juga, atau biarkan semua tetap berjalan, tapi tetaplah diri ini harus kembali padanya.
Jika aku berdosa ampunilah aku ya Alloh, aku merasa tak mampu menahan semua ini, hanya pertolonganmu saja yang bisa membawaku ke jalanMu, astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah hal adziim, sesungguhnya Engkau maha pengampun segala dosaku.
Saturday, April 30, 2011
Hanya Diam
Sabtu minggu ini bener bener libur total, tidak ada pekerjaan, tidak ada rencana, tidak ada yang di rumah, tidak ada yang bisa di kerjakan. Hmm.. rumah kosong tinggal aku sendirian, naseb lagi buruk ya begini. Bahkan hari ini keluar rumah pun tidak sama sekali, mulai dari pagi sampe malem dan mungkin sampe ketemu besok pagi ga bakalan menginjak tanah yang diluar, hmm...keterlaluan. Untungnya masih ada cadangan buat bertahan di dalam rumah, jadi males keluar dan emang ga ada perlu buat keluar, andai saja ini berlangsung selama seminggu seperti ini, bisa jadi beruang kutub yang jarang keluar dan banyak tidur di musim dingin.
Beberapa kali telpon berdering dan hanya waktu itu saja mulut ini bicara, emang mau bicara sama siapa lagi, ga ada orang lain disini. Terhitung dari pagi bicara cuman tiga kali sesuai jumlah telpon berdering saja, hmmm keterlaluan, seharian ini hanya diam, entahlah besok.
Beberapa kali telpon berdering dan hanya waktu itu saja mulut ini bicara, emang mau bicara sama siapa lagi, ga ada orang lain disini. Terhitung dari pagi bicara cuman tiga kali sesuai jumlah telpon berdering saja, hmmm keterlaluan, seharian ini hanya diam, entahlah besok.
Friday, April 29, 2011
Masih Seperti Yang Dulu
Siang ini aku merasa malu dengan diriku, ini adalah masalah pekerjaanku. Seorang lulusan teknik listrik yang mendapat jatah pekerjaan seorang kurir, aku nggak tau apa salahku sehingga terkadang pekerjaan ini layaknya seperti sebuah hukuman, bukan seperti sebuah hoby atau kesenangan, taukah kawan ini sungguh tidak menyenangkan.
Tugas hari ini adalah mengantarkan sebuah surat, sebut saja "berita acara pekerjaan", ke sebuah perusahaan besar. Dengan agak malas ketika sampai di gedung yang aku tuju, kutanyakan kepada seorang petugas security yang aku lihat sedang berjaga di pos masuk gedung, akan tujuanku yang detil, petugas tersebut memberitahuku bahwa aku bisa menemui bapak Supardi di lantai 8 gedung tersebut. Langsung saja aku menuju tujuanku untuk mengantarkan surat tersebut. Dan akhirnya selesaiah tugasku itu.
Di sela tugasku hari ini sebagai tukang antar surat, aku mencoba memecah situasi yang ada dengan kadang kadang ngobrol sedikit dengan orang yang ku temui, tak terkecuali dengan pak supardi ini.
Dalam cuplikan obrolan itu seperti ini kira-kira, ada satu pertanyaan dari pak supardi yang membuatku malu. Pak supardi menanyakan asalku, karena memang gaya ngomongku terlihat sangat jawa dan pak supardi tentunya jawa karena memang dari namanya yang jawa itu. Kemudian dia melanjutkan menanyakan kondisiku saat ini, tentang rumah, anak bahkan sampai istri, suasana sedikit berubah seperti sebuah interogasi polisi kepada copet yang tertangkap massa, duh nasibku, aku membayangkan kondisiku yang buruk ini, dibalik pertanyaan seseorang.
Iya memang aku saat itu menyadari dengan sesadar sadarnya bahwa aku yang sudah lima tahun lebih di kota besar ini, masih juga seperti ini. Pertanyaan pak supardi seperti memperolokku dengan halus, dan hati ini terasa mau menangis walaupun muka saat itu hanya nyengir, hm..., begitu rupanya diriku, terimakasih pak supardi yang sudah menjadi cermin, sehingga aku bisa melihat diriku saat ini, hm...
Tugas hari ini adalah mengantarkan sebuah surat, sebut saja "berita acara pekerjaan", ke sebuah perusahaan besar. Dengan agak malas ketika sampai di gedung yang aku tuju, kutanyakan kepada seorang petugas security yang aku lihat sedang berjaga di pos masuk gedung, akan tujuanku yang detil, petugas tersebut memberitahuku bahwa aku bisa menemui bapak Supardi di lantai 8 gedung tersebut. Langsung saja aku menuju tujuanku untuk mengantarkan surat tersebut. Dan akhirnya selesaiah tugasku itu.
Di sela tugasku hari ini sebagai tukang antar surat, aku mencoba memecah situasi yang ada dengan kadang kadang ngobrol sedikit dengan orang yang ku temui, tak terkecuali dengan pak supardi ini.
Dalam cuplikan obrolan itu seperti ini kira-kira, ada satu pertanyaan dari pak supardi yang membuatku malu. Pak supardi menanyakan asalku, karena memang gaya ngomongku terlihat sangat jawa dan pak supardi tentunya jawa karena memang dari namanya yang jawa itu. Kemudian dia melanjutkan menanyakan kondisiku saat ini, tentang rumah, anak bahkan sampai istri, suasana sedikit berubah seperti sebuah interogasi polisi kepada copet yang tertangkap massa, duh nasibku, aku membayangkan kondisiku yang buruk ini, dibalik pertanyaan seseorang.
Iya memang aku saat itu menyadari dengan sesadar sadarnya bahwa aku yang sudah lima tahun lebih di kota besar ini, masih juga seperti ini. Pertanyaan pak supardi seperti memperolokku dengan halus, dan hati ini terasa mau menangis walaupun muka saat itu hanya nyengir, hm..., begitu rupanya diriku, terimakasih pak supardi yang sudah menjadi cermin, sehingga aku bisa melihat diriku saat ini, hm...
Gelap dan Sepi
Ini adalah hari kedua rumahku terasa sepi, tidak seperti biasanya, ketika ku pulang kerja ketika pintu rumah tertutup namun dari luar terlihat cahaya lampu menyala terang. Memang sejak kehadiran Aisya di rumah ini semua terasa ramai dan gembira, setiap hari selalu ada tawa dan teriakan yang menghiasi rumah ini. Lari lari kecilnya yang baru bisa berjalan dan berlari membuat hati ini terasa tenang dan senang melihatnya. Candanya yang riang dan lucu membuat hati selalu ingin tersenyum ketika melihatnya.
Namun kali ini tidak. Sore ini serasa sepi, gelap terlihat dari luar, sudah dua hari tawa aisya tidak terdengar terasa sepi sekali, hidup terasa sendiri, tidak ada yang bisa diajak bercanda, tidak ada yang bisa diajak bericara, sungguh sangat sepi.Tidak ada yang membukakan pintu seperti biasanya, ketika aku menyandarkan sepeda motorku, tidak ada kata "ayah" lagi memanggilku dan menghilangkan penat di kala tubuh ini terasa lelah sepulang kerja. Aisya anakku dan ibunya tidak lagi ada di rumah ini, aku sungguh merasa sepi.
Namun kali ini tidak. Sore ini serasa sepi, gelap terlihat dari luar, sudah dua hari tawa aisya tidak terdengar terasa sepi sekali, hidup terasa sendiri, tidak ada yang bisa diajak bercanda, tidak ada yang bisa diajak bericara, sungguh sangat sepi.Tidak ada yang membukakan pintu seperti biasanya, ketika aku menyandarkan sepeda motorku, tidak ada kata "ayah" lagi memanggilku dan menghilangkan penat di kala tubuh ini terasa lelah sepulang kerja. Aisya anakku dan ibunya tidak lagi ada di rumah ini, aku sungguh merasa sepi.
Friday, April 1, 2011
Alhamdulillah
Terlalu banyak mengeluh selalu ku dengar dari hampir setiap orang yang kutemui, tak ada rasa bersyukur atas sesuatu yang sedang dirasakannya. Entahlah apa yang ada di pikiran mereka sehingga sulit sekali menikmati apa yang telah Alloh berikan. Terlalu sulit untuk menghitung apa yang mereka dan kita terima, tapi anehnya keluhan keluhan itu hampir terdengar di setiap mulut yang berkata.
Aku berfikir sejenak mungkinkah mereka menggantungkan kebahagiaan mereka pada dunia ini, pada apa yang mereka lihat, bukan pada apa yang akan mereka temui di ujung kehidupan mereka masing masing, aneh. Jika begitu tak akan kebahagiaan ditemui, hanya keluhan yang keluar dari mulut setiap mereka berbicara.
Janganlah kebahagiaan digantungkan pada dunia, pada rumah mewah, pada keinginan atau cita cita, pada uang, dan pada apa saja yang sejatinya hanya sementara saja di kehidupan ini. Kebahagiaan hanya akan di temui pada jiwa jiwa yang pandai bersyukur, pada jiwa yang selalu merasakan indahnya anugerah Alloh. Berlatihlah menikmati nasi dan garam untuk memperoleh kebahagiaan dunia akherat.
nasi dan garam = penderitaan
Jumat 11.36 01042011
Aku berfikir sejenak mungkinkah mereka menggantungkan kebahagiaan mereka pada dunia ini, pada apa yang mereka lihat, bukan pada apa yang akan mereka temui di ujung kehidupan mereka masing masing, aneh. Jika begitu tak akan kebahagiaan ditemui, hanya keluhan yang keluar dari mulut setiap mereka berbicara.
Janganlah kebahagiaan digantungkan pada dunia, pada rumah mewah, pada keinginan atau cita cita, pada uang, dan pada apa saja yang sejatinya hanya sementara saja di kehidupan ini. Kebahagiaan hanya akan di temui pada jiwa jiwa yang pandai bersyukur, pada jiwa yang selalu merasakan indahnya anugerah Alloh. Berlatihlah menikmati nasi dan garam untuk memperoleh kebahagiaan dunia akherat.
nasi dan garam = penderitaan
Jumat 11.36 01042011
Monday, January 17, 2011
Harta Dan Wanita
Aku ga tau ungkapan judul di atas bener atau salah, terus terang aku benci dengan harta, selalu jadi masalah. Banyak masalah yang timbul lantaran berebut uang, berebut kekayaan, berebut sesuatu yang berharga. Saudara bisa jadi musuh, teman bisa berkhianat, ah semua gara-gara harta dunia. Harta juga bikin lupa, lupa tujuan hidup sebenarnya, lupa dengan Yang menciptakan kita dan harta, lupa, lupa diri lupa ingatan, lupa segalanya hanya ingat harta dunia, lagi lagi.
Tapi memang tak bisa di pungkiri, keperluan akan kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah, beli beras, beli sebongkah emas semua pake harta dunia. Mau gimana lagi, rupanya harta harus di cari, harta harus di buru, harta harus di punyai. Harta di kejar-kejar banyak orang, semua ingin memilikinya, semua ingin menguasainya.
Wanita banyak memandang pria dari sisi kekayaan yang dimilikinya, wanita menyukai harta dari pada pria yang harusnya jadi imamnya. Para istri lebih suka marah kepada suami mereka lantara tidak diberi uang belanja, dari pada suami kesiangan telat sholat subuh. Istri lebih sewot dan manyun lantaran melihat tetangganya beli kulkas baru atau kalung anting emas. Wanita sangat menyukai harta daripada pria, itulah kenyataanya. Wanita akan rela melepas suaminya yang lebih beriman dan bersuamikan lagi yang lebih kaya harta. Wanita dan harta, dua-duanya terkadang sama gilanya, aku benci harta gara-gara harta wanita jadi gila padanya. Aku benci wanita yang gila harta, dari pada wanita solehah yang beriman, emang wanita gila harta bikin lelaki jadi gila.
Tapi memang tak bisa di pungkiri, keperluan akan kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah, beli beras, beli sebongkah emas semua pake harta dunia. Mau gimana lagi, rupanya harta harus di cari, harta harus di buru, harta harus di punyai. Harta di kejar-kejar banyak orang, semua ingin memilikinya, semua ingin menguasainya.
Wanita banyak memandang pria dari sisi kekayaan yang dimilikinya, wanita menyukai harta dari pada pria yang harusnya jadi imamnya. Para istri lebih suka marah kepada suami mereka lantara tidak diberi uang belanja, dari pada suami kesiangan telat sholat subuh. Istri lebih sewot dan manyun lantaran melihat tetangganya beli kulkas baru atau kalung anting emas. Wanita sangat menyukai harta daripada pria, itulah kenyataanya. Wanita akan rela melepas suaminya yang lebih beriman dan bersuamikan lagi yang lebih kaya harta. Wanita dan harta, dua-duanya terkadang sama gilanya, aku benci harta gara-gara harta wanita jadi gila padanya. Aku benci wanita yang gila harta, dari pada wanita solehah yang beriman, emang wanita gila harta bikin lelaki jadi gila.
Saturday, January 15, 2011
Dengan Bersyukur Ku Jadikan Hari Ini Sangat Indah
Hari kedua kembali di Jakarta, sabtu kemaren sampe jakarta lagi setelah seminggu lebih berada di Lampung, ah kota yang indah, ingin kesana lagi, kapan ya? Kembali merasakan sumpek macetnya Jakarta, hari sabtu dan minggu begini aja macet banget, gimana besok hari senin ya. Kabarnya beroperasinya busway koridor terakhir (ga tau koridor yg ke berapa, bodo amat) makin membuat macet Jakarta, di tambah di tutupnya beberapa jalan karena adanya penambahan jalan layang di atasnya makin membuat Jakarta macet, ga kebayang deh deritanya besok senin.
Tapi inilah kenyataanya, dari pada di pikirin terus susahnya hanya terasa mengeluh saja, ah mendingan di lupakan saja, di jalanin saja, biar hidup ini terasa indah, bersyukur sajalah dengan kondisi yang ada, semoga semua bisa jadi lebih baik deh.
Melompat jauh melupakan Jakarta, jauh di sana (kampung) ada si kecil dan ibunya yang lebih menyenangkan untuk di pikirkan, ada orang tua yang sedang mendoakan. Ku coba pencet tombol hp dan ingin ku mendengarkan suara ocehan si kecil, wah begitu meriah begitu menggemaskan, alhamdulillah ya Alloh kesehatan yang sudah di berikan. Begitu cerianya si kecil dengan ocehanya, begitu bahagia mendengarnya, indah sekali, aku sangat bersyukur hari ini sangat indah. Puas mendengar si kecil ganti ku coba memanggil nomer berbeda, kali ini ke kampung orang tua, banyak kabar menyenangkan. Musim tanam di mulai, walaupun musim kemaren panen gagal tetap musim tanam kali ini tak boleh menyerah, ya Alloh anugerahkan kemudahan untuk mereka, dalam hatiku berdoa.
Begitu banyak kabar bahagia aku dengar hari ini, aku sangat bersyukur padaMu ya Alloh. kabar si kecil, orang tua, saudara dan usaha mereka, sungguh membahagiakan hatiku hari ini. Alhamdulillah ya Robb.
Tapi inilah kenyataanya, dari pada di pikirin terus susahnya hanya terasa mengeluh saja, ah mendingan di lupakan saja, di jalanin saja, biar hidup ini terasa indah, bersyukur sajalah dengan kondisi yang ada, semoga semua bisa jadi lebih baik deh.
Melompat jauh melupakan Jakarta, jauh di sana (kampung) ada si kecil dan ibunya yang lebih menyenangkan untuk di pikirkan, ada orang tua yang sedang mendoakan. Ku coba pencet tombol hp dan ingin ku mendengarkan suara ocehan si kecil, wah begitu meriah begitu menggemaskan, alhamdulillah ya Alloh kesehatan yang sudah di berikan. Begitu cerianya si kecil dengan ocehanya, begitu bahagia mendengarnya, indah sekali, aku sangat bersyukur hari ini sangat indah. Puas mendengar si kecil ganti ku coba memanggil nomer berbeda, kali ini ke kampung orang tua, banyak kabar menyenangkan. Musim tanam di mulai, walaupun musim kemaren panen gagal tetap musim tanam kali ini tak boleh menyerah, ya Alloh anugerahkan kemudahan untuk mereka, dalam hatiku berdoa.
Begitu banyak kabar bahagia aku dengar hari ini, aku sangat bersyukur padaMu ya Alloh. kabar si kecil, orang tua, saudara dan usaha mereka, sungguh membahagiakan hatiku hari ini. Alhamdulillah ya Robb.
Wednesday, January 12, 2011
Dimana Keluargaku
Sudah enam hari di Lampung, yang semula rencana mau nginep di hotel ga jadi. Temen kerja punya saudara di sini, jadi malah numpang deh akhirnya. Hm... ini kota yang indah, bener-bener indah, lengkap pemandangan disini, lautan deket sekali, pulau kecil banyak terlihat dari pantai, perbukitan kecil banyak banget dan pegunungan ada juga. Udara begitu segar, tanaman masih rimbun disana sini di pinggiran jalan dan dipekarangan setiap rumah, indah deh disini, serasa di kota malang walaupun malang lebih dingin dan jauh lautannya.
Keluarga yang aku tinggali jauh dari kota, kalo dihitung dengan spedometer motor sih 30 km lebih. Kampungnya dekat bandara raden inten, branti tepatnya.
Daerah persawahan dengan beberapa rumah yang masih berjauhan, pohon kelapa dan pohon kajaran di pinggiran jalan. Terlihat begitu tenang perkampunganya, keluarga yang tenang dan nyaman, pemandangan yang selalu terlihat ketika aku pulang kerja di sore harinya, ah ini membuatku iri. Berbeda dengan diriku yang saat ini berada jauh dari anak dan istriku. Pekerjaan tetapku di Jakarta, sekali kali keluar kota seperti ini, sedangkan anak dan istriku jauh di jawa timur, tak taulah kenapa seperti ini. Ku sudah berusaha untuk mencari pekerjaan yang dekat dengan mereka namun selalu gagal, tapi aku selalu bersyukur karena semua yang di berikan oleh Alloh selalu menyimpan rahasia besar di baliknya, alhandulillah aku selalu berfikir positif.
Ada rasa sedikit mengganggu pikiranku ketika terlihat begitu indahnya suasana keluarga yang tinggal di daerah seperti ini, nyaman, tenang, rukun, ah diriku seolah merasakan iri. Terlintas di fikiranku saat itu bayangan bayangan keluarga ku, istriku, si kecil yang sedang belajar berjalan dan ramenya rumah dengan teriakan dan ocehannya, indah sekali, namun sayang hanya lamunan. Hm... hatiku rupanya sedang sedih, aku hanya terdiam, kemudian menangis hati ini.
Ya Alloh anugerahkan aku kesabaran di hatiku, berikanlah yang terbaik untukku, untuk keluargaku, dan untuk saudara saudara seimanku ya Alloh, amin.
Keluarga yang aku tinggali jauh dari kota, kalo dihitung dengan spedometer motor sih 30 km lebih. Kampungnya dekat bandara raden inten, branti tepatnya.
Daerah persawahan dengan beberapa rumah yang masih berjauhan, pohon kelapa dan pohon kajaran di pinggiran jalan. Terlihat begitu tenang perkampunganya, keluarga yang tenang dan nyaman, pemandangan yang selalu terlihat ketika aku pulang kerja di sore harinya, ah ini membuatku iri. Berbeda dengan diriku yang saat ini berada jauh dari anak dan istriku. Pekerjaan tetapku di Jakarta, sekali kali keluar kota seperti ini, sedangkan anak dan istriku jauh di jawa timur, tak taulah kenapa seperti ini. Ku sudah berusaha untuk mencari pekerjaan yang dekat dengan mereka namun selalu gagal, tapi aku selalu bersyukur karena semua yang di berikan oleh Alloh selalu menyimpan rahasia besar di baliknya, alhandulillah aku selalu berfikir positif.
Ada rasa sedikit mengganggu pikiranku ketika terlihat begitu indahnya suasana keluarga yang tinggal di daerah seperti ini, nyaman, tenang, rukun, ah diriku seolah merasakan iri. Terlintas di fikiranku saat itu bayangan bayangan keluarga ku, istriku, si kecil yang sedang belajar berjalan dan ramenya rumah dengan teriakan dan ocehannya, indah sekali, namun sayang hanya lamunan. Hm... hatiku rupanya sedang sedih, aku hanya terdiam, kemudian menangis hati ini.
Ya Alloh anugerahkan aku kesabaran di hatiku, berikanlah yang terbaik untukku, untuk keluargaku, dan untuk saudara saudara seimanku ya Alloh, amin.
Friday, January 7, 2011
What A Women
Seorang pria, mendambakan wanita yang baik.
Untuk menemani hidupnya.
Untuk saling melengkapi kekurangan yang ada di dirinya.
Adakah wanita yang sanggup seperti itu.
Berbagai macam wanita di dunia.
Yang mana yang bisa
Menjadi teman selamanya.
Masih adakah wanita.
Yang tak menyakiti hati lelakinya.
Yang selalu mendinginkan fikiran lelakinya.
Yang mampu mendidik anak anaknya.
Yang mampu membawa keluarga bersama suaminya
Masih adakah wanita
Yang tak memandang dunia.
Yang tak memandang dirinya.
Semua berdasarkan agamanya.
Masih adakah wanita.
Yang sanggup tulus untuk keluarga dan suaminya?
Masih adakah wanita.
Untuk menemani hidupnya.
Untuk saling melengkapi kekurangan yang ada di dirinya.
Adakah wanita yang sanggup seperti itu.
Berbagai macam wanita di dunia.
Yang mana yang bisa
Menjadi teman selamanya.
Masih adakah wanita.
Yang tak menyakiti hati lelakinya.
Yang selalu mendinginkan fikiran lelakinya.
Yang mampu mendidik anak anaknya.
Yang mampu membawa keluarga bersama suaminya
Masih adakah wanita
Yang tak memandang dunia.
Yang tak memandang dirinya.
Semua berdasarkan agamanya.
Masih adakah wanita.
Yang sanggup tulus untuk keluarga dan suaminya?
Masih adakah wanita.
Thursday, January 6, 2011
Ada Apa (Jantungku)
Bulan desember kemarin aku sempet mengikuti ujian masuk di salah satu perusahaan, tiga hari lamanya beragam tes kujalani, sangat lengkap dan baru kali ini tes masuk ke sebuah perusahaan begitu lengkap dan detail. Hari pertama kujalani dengan lancar, dari sekian banyak aku termasuk yang lolos dari enam orang yang di terima, alhamdulillah. Hari kedua tes sama saja, lengkap dan detail, begitu terlihat saingan lima orang yang lain begitu semangat melahap setiap tes yang di berikan kepada mereka, aku merasa diriku tergopoh-gopoh menyelesaikan setiap lembaran tes yang di berikan, tapi aku tetap berusaha konsen, fokus dan tenang membereskan setiap permasalahan, alhamdulillah selesai dengan sedikit berdebar-debar rasanya. Tak kusangka di hari terakhir tes rupanya tinggal diriku dan satu orang teman dari enam orang di antara kami, kemana yang lain, untunglah di hari kedua kami berenam sempat bertukar nomor handpone dan sepakat untuk saling memberi informasi jika ada yang di panggil dan tidak di panggil untuk melanjutkan tes. Aku coba sms kelima peserta yang lain, ternyata mereka tidak ada yang di panggil untuk mengikuti tes yang terakhir.
Hari ketiga adalah yang paling berat, sama dengan dua hari yang lalu dimulai jam 8 dan berakhir di jam 3 sore dengan istirahat 1 jam. Kami berdua kelihatan bersaing untuk memperlihatkan kemampuan kami hingga tes usai. Sebelum pulang kami sempat sepakat jika salah satu dari kami ada yang di panggil untuk tes lagi kami akan saling memberikan informasi.
Seminggu berlalu tidak ada kabar hasil dari tes tes yang tela ku lalui, ku coba untuk sms ke yang lain ternyata sama, mereka juga tidak menerima kabar. Tak kusangka setelah beberapa hari menunggu aku mendapat kabar baik, aku lulus dan diperbolehkan mengikuti tes selanjutnya, yaitu medical test lengkap, aku coba sms menanyakan ke yang lain ternyata hanya aku yang mendapatkan kesempatan itu.
Medical test ku jalani di Jakarta, disinilah akhirnya masalahnya. Setelah seminggu berlalu dari medical test aku tidak menerima hasilnya sama sekali, setelah aku cek ke laboratorium tempatku medical test ternyata mereka telah mengirimkan hasilnya sehari setelah aku medical test, itu berarti sudah enam hari yang lalu. Akhirnya aku coba mencari contact person perusahaan yang mengadakan tes tes tersebut. Aku coba telfon dan akhirnya setelah dua hari bersusah payah mendapatkan komunikasi dengan pihak HRD perusahaan tersebut akhirnya kudapatkan jawaban juga.
Mereka memberikan informasi bahwa semua tes yang kujalani berhasil dengan baik, namun ada satu catatan dari medical test, bahwa aku dinyatakan tidak lulus di sana. Dokter yang melaksanakan ECG memberikan sedikit catatan tentang kondisi jantungku, di jantungku ada masalah.
Aku kaget dan bertanya kembali detail permasalahanya, namun pihak perusahaan tidak mau memberikan jawaban, itu dapat aku mengerti karena itu adalah hak prerogatif mereka atas hasil tes tersebut. Aku bingung mengapa begini jadinya, ada apa dengan kondisi jantungku?
Hingga kini aku terus mencari informasi apa itu ECG, apa itu jantung, pokoknya semua yang berkaitan dengan jantung coba aku dapatkan informasinya. Aku berharap ini dapat memperbaiki kondisiku dalam waktu dekat, dan dapat mengerti apa saja yang sebaiknya aku lakukan dan apa yang harus aku hindari.
Dari informasi yang kudapat memang ada beberapa tanda tanda yang dapat kurasakan pada diriku tentang jantungku, ya itu benar. Namun saat ini yang dapat aku lakukan adalah segera mungkin menyelesaikan permasalahan ini, dengan berolahraga, mengatur pola makan, dan mendapatkan informasi secara akurat kondisi jantungku ini dari laboratorium.
Untuk langkah yang terakhir aku tak tau apakah bisa? terbentur masalah biaya tentunya, tidaklah murah untuk pergi ke laboratorium dan ECG ulang, sehingga detil jantungku bisa ku dapatkan informasinya. Aku tak tau berapa biayanya. Setelah aku pulang nanti aku berencana mendapatkan informasi tentang ECG, berapa biayanya. Aku berharap semuanya baik baik saja, ya Alloh mudahkan jalanku, amin.
Tuesday, January 4, 2011
Sabarkan Aku Ya Robb
Malam ini begitu melelahkan, dua hari ini pulang kerja malam terus, sampe rumah hampir jam 10 malam membuat mata ini serasa perih dan hampir tak kuat menahan kantuk. Seminggu yang lalu badan ini merasakan sakit mungkin karena kelelahan, seminggu ku jalani dengan fisik yang lemes, badan panas terkadang dingin, kepala terkadang pusing membuat tubuh serasa lelah dan lemah.
Memang dua hari ini sudah agak mendingan daripada kemaren kemaren, aku sudah mulai enak bekerja, namun kenyataanya seperti masih belum kuat untuk bekerja lama, apalagi hingga larut malam seperti ini. Aku hanya mencoba untuk bersabar dan menambah kekuatanku untuk menuju rumah selepas kerja. Sepanjang perjalanan di temani macet di hampir seluruh ruas jalan yang kulalui, siapa yang tidak tahu macetnya Jakarta. Untunglah minggu minggu kemaren liburan sekolah, ketika badan dalam kondisi lemas jalanan tidak terlalu macet seberangkat dan sepulang kerja. Tapi hari ini anak sekolah sudah mulai memadati jalanan, mobil pengantar dan penjemput mulai berlomba memenuhi jalanan, dan parahlan macetnya hingga larut malam begini, tak taulah apa masih ada anak sekolah selarut begini, hingga macetnya tak kunjung terurai di jam jam malam begini.
Tubuhku gontai di atas motor bututku itu, aku harus kuat, aku harus sampai rumah. Ku kuatkan perjalanan itu hingga tiba di rumah, alhamdulillah. Tetangga sudah gelap semua rumahnya, sepi dan dingin bekas hujan tadi sore menusuk tulang tulangku hingga hampir ke sumsum. Terasa lapar menyayat perut, tidak kutemukan makanan yang cocok untuk kondisiku saat ini yang sedang masa pemulihan dari sakitku. Dokter terlalu cerewet mengatur makanku, warung warung yang menyediakan makanan hingga semua makanan yang tinggal tersisa malam ini tak boleh kumakan semua, aku arus makan apa malam ini. Ah sudahlah lebih baik aku pulang dulu, ini terlalu larut untuk menunda lagi isya'ku. Aku juga harus pulang semakin malam akan semakin dingin kurasakan air menusuk nusuk tulangku ketika mandi nanti, aku sebaiknya harus pulang.
Ku bergegas mandi kemudian isyaan, handpone berdering, sejenak kuangkat sayup sayup suara jauh disana, sang kekasih menanyakan kabar, alhamdulillah aku baik saja. Tak taulah kenapa, malam ini sepertinya dia kelelahan mungkin hingga tak sadar ucapanya sedikit menyakiti perasaan kekasihnya ini. Aku hanya diam mendengar semua ucapannya, aku tak mau membalasnya, aku hanya bersedih dan berfikir, seandainya dia berada disini tentu takkan seperti ini kejadiannya, sabarkan hatiku dan hatinya ya Alloh.
Mataku semakin berkunang kunang, perut semakin tersayat lapar, tubuh semakin lemas kehabisan tenaga, aku hanya bisa berdoa lagi, berdoa untuk kekasihku, berdoa untuk buah hatiku, berdoa untuk orang tuaku dan terakhir berdoa untuk diriku. Kurasakan air mata jatuh tanpa terkendali membasahi pipi hingga bibirku. Sejenak kemudian tak tahu apa lagi yang terjadi, beberapa menit seperti ku kehilangan ingatan, namun tiba tiba pagi sudah datang, rupanya aku terlelap dalam lelah, rindu dan lapar, sabarkan aku ya Alloh.
Memang dua hari ini sudah agak mendingan daripada kemaren kemaren, aku sudah mulai enak bekerja, namun kenyataanya seperti masih belum kuat untuk bekerja lama, apalagi hingga larut malam seperti ini. Aku hanya mencoba untuk bersabar dan menambah kekuatanku untuk menuju rumah selepas kerja. Sepanjang perjalanan di temani macet di hampir seluruh ruas jalan yang kulalui, siapa yang tidak tahu macetnya Jakarta. Untunglah minggu minggu kemaren liburan sekolah, ketika badan dalam kondisi lemas jalanan tidak terlalu macet seberangkat dan sepulang kerja. Tapi hari ini anak sekolah sudah mulai memadati jalanan, mobil pengantar dan penjemput mulai berlomba memenuhi jalanan, dan parahlan macetnya hingga larut malam begini, tak taulah apa masih ada anak sekolah selarut begini, hingga macetnya tak kunjung terurai di jam jam malam begini.
Tubuhku gontai di atas motor bututku itu, aku harus kuat, aku harus sampai rumah. Ku kuatkan perjalanan itu hingga tiba di rumah, alhamdulillah. Tetangga sudah gelap semua rumahnya, sepi dan dingin bekas hujan tadi sore menusuk tulang tulangku hingga hampir ke sumsum. Terasa lapar menyayat perut, tidak kutemukan makanan yang cocok untuk kondisiku saat ini yang sedang masa pemulihan dari sakitku. Dokter terlalu cerewet mengatur makanku, warung warung yang menyediakan makanan hingga semua makanan yang tinggal tersisa malam ini tak boleh kumakan semua, aku arus makan apa malam ini. Ah sudahlah lebih baik aku pulang dulu, ini terlalu larut untuk menunda lagi isya'ku. Aku juga harus pulang semakin malam akan semakin dingin kurasakan air menusuk nusuk tulangku ketika mandi nanti, aku sebaiknya harus pulang.
Ku bergegas mandi kemudian isyaan, handpone berdering, sejenak kuangkat sayup sayup suara jauh disana, sang kekasih menanyakan kabar, alhamdulillah aku baik saja. Tak taulah kenapa, malam ini sepertinya dia kelelahan mungkin hingga tak sadar ucapanya sedikit menyakiti perasaan kekasihnya ini. Aku hanya diam mendengar semua ucapannya, aku tak mau membalasnya, aku hanya bersedih dan berfikir, seandainya dia berada disini tentu takkan seperti ini kejadiannya, sabarkan hatiku dan hatinya ya Alloh.
Mataku semakin berkunang kunang, perut semakin tersayat lapar, tubuh semakin lemas kehabisan tenaga, aku hanya bisa berdoa lagi, berdoa untuk kekasihku, berdoa untuk buah hatiku, berdoa untuk orang tuaku dan terakhir berdoa untuk diriku. Kurasakan air mata jatuh tanpa terkendali membasahi pipi hingga bibirku. Sejenak kemudian tak tahu apa lagi yang terjadi, beberapa menit seperti ku kehilangan ingatan, namun tiba tiba pagi sudah datang, rupanya aku terlelap dalam lelah, rindu dan lapar, sabarkan aku ya Alloh.
Subscribe to:
Posts (Atom)