Friday, June 4, 2010

Gadis Dan Sepeda

Selepas isya aku keluar untuk mencari makan, dengan motor butut yang kusayang aku berjalan keluar rumah, tengok kanan kiri mencari warung yang pas rasanya dan pas harganya, hmm, kulihat sebuah warung rame dan membuatkuu penasaran dan bertanya apa sih yang di jual itu aku jadi penasaran dan menghampirinya, pengen nyoba koq keliatan banyak pelanggannya.
Kuparkir motorku, oh rupanya warung nasi uduk, tak apalah lumayan biat mengisi makan malam hari ini, aku langsung pesen dan lumayan juga masakannya beda ama nasi uduk biasanya memang, pantesan rame. Selepas makan aku bayar dan pulang, diperjalanan pulangku itu kulihat hal yang tidak biasanya. Seorang gadis yang berumur sekitar 20an dengan sepeda pancal pelan pelan melewatiku. Dia terlihat begitu lelahnya mengayuh sepeda itu, dengan hati hati dan pelan pelan dia tetap mengayuh seolah sudah tak ada lagi kekuatan karena jauhnya perjalanannya. Memang daerah tempatku tinggal masih termasuk kampung dengan jalanan yang gelap, jauh, dan sepi, tapi pengaruh dari Jakarta begitu besar membuat pola hidup masyarakatnya begitu metropolis, dan hampir tidak pernah bisa di temui lagi kendaraan seperti sepeda pancal yang sedang di kayuh gadis ini.

Tuesday, June 1, 2010

Perjalanan Menuju Kesedihan

Ku terus berusaha untuk menutup mataku sore itu, benar-benar tak ingin pikiran ini terbawa terbayang senyum senyum manis anak ku canda tawa istriku. Sadar diri ini bila bila tak segera tertidur maka pikiran ini akan terbawa menuju hal-hal yang hanya akan membuatku bertambah bingung dan tak karuan rasanya.
Sore itu kereta yang sesak yang ku tumpangi membawaku kembali jauh dari keluargaku, dari anakku yang hanya ku lihat senyumnya sebulan sekali bahkan terkadang bisa dua bulan atau lebih baru ku lihat kembali senyumannya. Jam 04.45 sore itu bersama gerismis bercampur berisiknya roda roda gerbong kereta di tambah nada sumbang pengamen kereta, penjual-penjual yang bersautan menawarkan barangnya, kurasakan sesak pilu itu kembali menusuk-nusuk hatiku. Aku harus meninggalkan kembali kebahagiaan yang hanya tiga hari kurasakan bersama anak dan istriku.