Wednesday, November 23, 2016

Kehidupan Kehidupan

Hidup ini ibarat sebuah perjalanan, perjalanan panjang. Entah mulai kapan kita diciptakan yang jelas kalau menurut ajaran Islam ruh kita terlebih dahulu ada. Jadi kehidupan ini memang sudah panjang dan sudah pernah ada kehidupan yang kita lalui sebelum ini. Sebelum kehidupan saat ini sudah ada kehidupan sebelumnya dan akan ada kehidupan lagi setelah saat ini.
Jadi jelas sudah kehidupan ini, kehidupan dunia ini, kehidupan yang sekarang kita semua sedang jalani, sebagai apa? Kehidupan ini adalah salah satu bagian dari seluruh rangkaian kehidupan kehidupan yang telah di rencanakan. Lalu kenapa kita harus menjalani rangkaian kehidupan tersebut?

Monday, January 4, 2016

Berhitung

"Selamat tahun baru pak", kata-kata yang begitu mengagetkan buatku sore itu, betapa tidak beberapa tahun belakangan tidak pernah terdengar kini terdengar lagi, sepulang dari Jakarta beberapa tahun lalu tiap tahun baru sudah tidak ada lagi yang mengatakan kata-kata itu di sekitar awal bulan Januari, kini terdengar lagi, spontan tidak ada kata lain untuk membalasnya, hanya "sama-sama". Betapa tidak tahun baru masehi bukanlah hal spesial buatku dari dulu, aku tak pernah mau ikut atau terbawa-bawa latah dengan upacara terompet, kembang api, bakar-bakar atau apalah, sama sekali tidak. Sudah banyak penjelasan kenapa tidak ikut-ikutan terbawa, sudahlah bukan itu masalahnya.
Tapi yang ku fikirkan setelah itu adalah kata-kata resolusi, ya mendekati bulan Januari dan sekitaran Januari di media juga beberapa orang mengucapkan kata "resolusi". Aku berfikir resolusi menurut pendapatku berasal dari re dan solusi entar benar entah salah ini semua menurutku saja. Re sepertinya kalau di pahami berarti baru dan solusi ya solusi, solusi baru mungkin maksud dari kata itu. Menurut pendapatku sendiri lagi berarti memperbarui cara-cara menyelesaikan masalah, halah, benarkah? Ini sama saja dengan melihat kembali ke belakang permasalahan-permasalahan yang belum selesai dan mencari solusi yang baru untuk mengatasinya, hah, benarkah? benar atau tidak resolusi ini hanya terdengar satu tahun sekali, saya kurang suka membicarakannya.
Lalu apa? dalam Islam sendiri ada istilah muhasabah (memperhitungkan), resolusi saya pikir lebih mirip ke muhasabah namun muhasabah lebih lengkap dan lebih sering di lakukan. Dalam anjuranya sendiri muhasabah sebaiknya dilakukan sebelum tidur, apa saja yang di lakukan. Muhasabah amal dan dosa, akhlaq juga bisa,muhasabah input dan output dompet, muhasabah pekerjaan, semua yang dilakukan dari bangun sampai mau tidur lagi di perhitungkan dan di angan-angan, kalo perlu di tulis dalam sebuah buku atau kertas. Dan itu artinya dilakukan setiap hari. Semoga bermanfaat (7;36wib)
......bersambung

Tuesday, December 22, 2015

Petang Hening

Lima menit lagi adzan magrib berkumandang, motor ku laju menuju masjid biasanya. Hari ini selasa sore di hari biasanya setelah magrib ada pengajian, tapi minggu lalu ustadz ijin tidak hadir, namun sore ini yang datang berjamaah tetap ramai seperti selasa-selasa sebelumnya di kala ada pengajian. Ambil wudu, masuk masjid, namun langkah kaki ini serasa berbeda.
Kurasakan diri ini sudah tua, sudah kepala tiga, dalam fikirku terlintas beginikan menjadi seorang tua, seorang bapak, seorang suami, seorang ayah. Ada kata-kata yang begitu ku fikirkan hingga saat ini, aku bingung, kata-kata yang di ucapkan istriku kemarin sore serasa menyadarkanku, tapi terkadang menyakitiku, bingung benar ku rasakan, aku harus bagaimana, masalah.
Ku lihat di sudut masjid seorang bapak tua, hanya duduk terdiam di kala orang lain mengambil tahiyyatal masjid, dia hanya terdiam tatapannya kosong, seolah aku merasakan apa yang bapak itu rasakan. Bahkan seolah yang kurasakan belum seberapa apa yang bapak itu rasakan, laki-laki yang terdiam.
Begitulah laki-laki, mereka akan terdiam, mereka tetap tenang, namun tak banyak yang dilakukan bila sedang banyak fikiran. Mereka membutuhkan waktu untuk menimbang, berfikir, menghitung apa yang akan dilakukan apa yang akan di dapatkan, seolah-olah mereka akan mendapatkan jawaban mendapatkan solusi masalah yang di hadapi, padahal kemudian hanya bersedih yang di rasakan.
Bergitulah kehidupan...

Monday, December 7, 2015

Seorang Ayah

Hujan mulai sering di bulan desember, pohon yang tinggal ranting mulai bertumbuh lembaran hijau muda yang berkilat, tanah mulai basah rumputpun mulai menghijau kembali. Begitu hujan menjadi berkah besar sebuah kehidupan, petani mulai sibuk, sawah mulai basah, begitu banyak harapan begitu banyak kesibukan, begitu banyak kebahagiaan.
Senin pagi berkabut seorang ayah memulai aktifitasnya kembali, bukan bertani, tapi melewati perjalanan kehidupan yang tak lebih ringan dari bertani, mungkin bahkan lebih beratnya. Dengan motornya melewati jauhnya perjalanan yang harus di tempuhnya menuju tempat kerja, meninggalkan sejenak keluarga demi menjaga kelangsungan kehidupan keluarga yang di tanggungnya. Setelah lebih 80 kilometer sampai juga, rasa lelah tidak mungkin di hiraukan, karena harus segera bekerja. Perjalanan yang lumayan jauh begitu menguras tenaga, menguras fikiran dan konsentrasi untuk selalu menjaga agar tetap selamat hingga bertemu keluarga.
Memburu waktu tidaklah mudah, tidak jarang banyak kejadian di perjalanan yang menghambat laju motor, kecelakaan, jalanan rusak yang berlubang dan berair bahkan terkadang kendaraan lain yang melaju membahayakan, sangatlah mudah dan bikin lelah.
Belum habis lelah namun pekerjaan harus segera di lakukan, hmm, terkadang makan siang pun terlupakan, terkadang juga sengaja di lupakan, ah diri ini jangan terlalu banyak bersenang.
Memang mungkin untuk pulang dan pergi setiap hari, tapi dua hari sekali saja rasanya sudah ber kat, tibalah rabu sore berangkat pulang, bahkan rasa lelah perjalanan hari senin belum juga hilang. Apa yang ku peroleh dari semua ini, tiada kesenangan yang di harapkan, tiada sesuatu yang di inginkan, rabu malam jika masih di temui putri tersayang, hilang semua lelah di badan.
hmm...

Saturday, January 24, 2015

Kedua

Belakangan ibu aisyah sering lemas seperti mau sakit-sakitan ngga doyan makan tepi pengen makan, kalo dipikir-pikir bikin cape juga, sakit tapi kadang sehat kadang lemas. Pusing juga meskipun tidak ikut merasakannya.
Tanpa ada rasa curiga sedikitpun rupanya si ibu, namun curiga justru rupanya melintas di pikiranku, ya
Hal seperti ini pernah dialami ibu aisyah 2009 lalu ketika sakit paru yang baru diketahui setelah ada muntah sedikit darah dan melalui berbagai pemeriksaan rumah sakit. Namun lemas dan doyan ga doyan makan bukan karena sebab sakit paru tersebut, sebab beberapa hari setelah di ketahui sakit paru justru ibu aisyah mengandung aisya pada waktu itu. bahagianya ada anugerah di balik sebuah cobaan. Namun hal itu justru menjadi kabar buruk ketika dokter seketika meminta maaf. Dokter mengatakan kurang baik mengandung di saat sedang ada penyakit seperti paru, karena, penyakit paru pengobatannya harus dilakukan selama 6 bulan terus menerus dan tanpa putus seharipun, apabila pengobatan putus maka harus di ulang dari awal dan selesai 6 bulan kemudian yang dapat di pastikan melalui serangkaian tes di rumah sakit terlebih dahulu untuk mengetahui jumlah virus dalam darah yg mengganggu paru tersebut.
Hmm, obat paru memang bisa dipilih yang aman buat kandungan, tapi butuh waktu untuk memulihkan tubuh untuk persiapan melahirkan.
Mendengar itu hanya bisa pasrah, hanya punya satu pilihan, melanjutkan titipan ini dan berkomitmen berusaha menyelesaikan pengobatan selama 6 bulan pertama dengan tawakkal apapun hasilnya, agar sisa 3 bulan sebelum melahirkan bisa di gunakan untuk pemulihan dari obat-obatan yang sudah dimakan selama 6 bulan itu. Semakin panjang waktu pemulihan tentu saja semakin baik. Alhamdulilah Alloh menghendaki sesuai rencana dan lahirlah si bayi kuat aisyah.
Itulah 6 tahun lalu yg kembali terlintas, ya ibu aisyah mengandung sepertinya namun tida menyadarinya. Aku diam saja dan berencana ingin membawa ke dokter di saat tepat. Namun belum hal itu terlaksana sepertinya ibu aisyah keburu menyadarinya, jam 9 sabtu malam ibu aisyah minta diantar ke apotik beli tes kehamilah, alhamdulillah minggu pagi nya di ketahui positif.
Dua minggu setelah itu 4 januari 2015 dokter rs.moerdjito melakukan pemeriksaan usg di ketahui usia adik aisyah sudah kurang lebih 8 minggu di alam kandungan ibu nya dan insyallah 18 agustus nanti.
Alhdulillah ya rabb, semoga titipanMu ini mebuat kami semakin taat padaMu. Aku berkomitmen menjadikan anak kami hafidz/hafidzoh insyallah itu doa kami, namun aku belum mengatakannya pada ibu aisyah aku hanya memintanya banyak mengaji agar anak kami kelak sangat mencintai Alquran, dan aku juga berkomitmen menjadikan kami sekeluarga pecinta Alquran dengan mememorizing tentunya, namun blm juga mengungkapkannya, hanya sudah memulainya lebih dulu menghafalkan. Berikanlah kemudahan bagi kami untuk taat kepadaMu ya rabb, amin.