Sunday, November 18, 2012

Musim Hujan Sepertinya

Pagi pagi celana sudah basah walau hanya di pantat, jok motor yang bocor menyedot air hujan kemaren sore, meskipun sudah pagi tetap bisa dirasakan lembebnya kalo di dudukin joknya. Hujan mulai sering di Jakarta, semingguan ini lumayan sering, musim hujan sepertinya sudah mulai. Sepinya suasana di tempat kerja  membawa pikiran ini kembali melamun ke masa silam, ke rumah papan yang akan selalu jadi kenangan, saat musim hujan.
Bila hujan tiba begitu ramainya disana, tanah yang panas merekah seolah sedang minum, pohon yang layu seolah tak minum seabad lamanya, kambing dan sapi yang menahan kepanasan semua serasa lega. Orang kampung yang kebingungan karena sumurnya mengering kembali bisa tersenyum bersama derasnya air hujan.   Rerumputan mulai menunjukkan tunasnya yang kuning kehijauan, udara sejuk di pagi hari bersama matahari yang redup kemerahan di pagi hari menambah betapa baiknya musim hujan yang baru datang.
Hujan lebih sering datang di sore hari, sayang saja kalo musim hujan lapangan jadi becek, meskipun masih bisa bermain bola lebih baik di rumah saja, becek dan tidak menyenangkan bagiku, tapi lain bagi teman yang lain mungkin, becek lapangan bola lebih menyenangkan bagi mereka, bersama derasnya air hujan begitu menyenangkan berlarian di lapangan mengejar bola, kalo aku di rumah saja. Hujan sore hari begitu derasnya, genting2 rumah banyak yang retak dan pecah, bocor disana-sini, dapur yang parah bocornya, kemiringan gentingnya hampir mendekati rata, air kurang lancar turunnya, air pun lebih memilih menetes ke ruangan dapur dari pada memilih meluncur melewati genting dan jatuh di terasnya, begitu ramainya bocor di dapur rumah kami. Begitu sibuknya bapak membetulkan genting yang retak itu dengan mengganti baru, memang ada banyak genting baru di rumah, ketika dulu kami pernah menambah bagian belakang rumah biar lebih luas tersisa begitu banyak gentingnya yang masih bagus, kalo musim hujan masih bisa digunakan untuk mengganti yang retak.
Emak juga tak kalah sibuknya, segala macam perabot di ambil dan di tata sedemikian rupa mengikuti bagian dapur yang terkena tetesan air, menadah tetesan-tetesan air supaya tidak jatuh ke lantai tanah rumah kami, ember, panci, bak air hampir semuanya bergeletakan mencegah menadah tetesan air dari genting yang bocor. Begitu ramainya rumah kami perabot berserakan kemana-mana kalo sedang hujan. Aku tak memilih main bola kalo hujan datang, di rumah saja.
Di luar rumah air begitu derasnya, kubangan dimana mana, dinding bambu tak bisa mencegah air yang mau masuk kerumah, segera saja aku bawa pacul mengitari rumah ku bikin parit-parit kecil ku lancarkan air biar tidak masuk rumah, lari kedepan kebelakang sibuk sendiri di luar seperti penjaga pintu air yang mondar mandir takut terjadi banjir, banjir kecil air hujan yang masuk rumah lantaran kubangan air di teras yang masuk ke rumah. Asik memang sambil berhujan-hujan, dan tak usah mandilah sehabis itu.
Begitu menyenangkannya musim hujan di kala itu, tiap sore, selalu begitu. Namun hujan kadang juga menakutkan, dikala mendung begitu hitam di arah barat, begitu mendadak datangnya, angin kencang pasti datang, hujan menjadi menakutkan bagi kami. Rumah kami yang memang terletak di pinggiran sebelah barat kampung menjadi salah satu tameng bagi rumah rumah yang lain. Begitu berhadapan langsung dengan hamparan sawah di sebelah baratnya, indah memang bila sore tiba, sunset selalu bisa kami nikmati tiap sore menjelang maghrib bila cuaca cerah. Hijaunya hamparan sawah manambah indahnya pemandangan bila menatap ke arah barat daya, apapun yang di tanam petani di sawah semua bisa terlihat hijau dan indahnya dari rumah kami. Petani-petani yang sedang sibuk di sawahpun bisa terlihat dari rumah kami, sungguh posisi yang bagus bila suasana cerah, dan posisi yang berbahaya bila hujan dan angin seperti ini.
Rumah kami yang hanya papan kayu dan beberapa bagian dinding bambu menjadi mengkhawatirkan bila hujan dan angin kencang datang, tak jarang seisi rumah menjadi ketakutan dan terpaksa harus keluar rumah dan berdiri di teras bila angin kencang mengancam. Pernah juga beberapa rumah di sekitar menjadi roboh di terjang angin kencang saat musim hujan. Pilihan keluar rumah dan berdiri di teras menjadi kebiasaan seisi rumah kami bila hujan dan angin kencang. Tak jarang angin yang begitu kencang membawa dahan-dahan pohon entah dari mana asalnya jatuh di jalanan di depan rumah kami berserakan, kami pun membersihkannya setelah hujan dan angin usai, begitu lega setelah semuanya berlalu selamat, semua keluarga keluar rumah dan berada dijalanan jika hujan dan angin usai, mereka seolah peduli satu sama lain, ingin tahu apakah semua selamat seisi kampung ataukah ada yang tertimpa bahaya setelah angin dan hujan yang begitu menakutkan. Seolah seisi kampung merapikan dan membetulkan kembali yang sudah di acak-acak angin kencang, sampah-sampah dan dedaunan semua di bersihkan. Musim hujan selalu membaca cerita, begitu juga musim hujan di masa lalu di rumahku dulu.

Saturday, September 29, 2012

Sabtu Malam Kesekian

Hari ini libur kerja, seharian di rumah sedikit keluar hanya untuk ke pasar untuk keperluan rumah, beli beras kata waliband. Tak terasa sudah malam hari, sabtu malam, malam minggu kata anak muda, baisa aja tidak istimewa sama seperti malam malam minggu sebelumnya, sama seperti malam minggu enam tahun lalu ketika pertama kali di Jakarta. Begitu juga malam minggu hari ini enam tahun setelah malam minggu enam tahun yang lalu, sama saja tidak ada yang lebih istimewa di malam minggu.
Ga terlalu penting mikirin malam minggu, yang terpenting adalah ada sedikit perubahan untuk beberapa minggu kedepan di tambah beberapa hari. Setelah sekian lamanya di Jakarta akhirnya bisa juga dapat peluang untuk meninggalkannya, sesuatu yang beberapa orang menjadi istimewa termasuk saya. Harapan untuk meninggalkan Jakarta menyenangkan bagi beberapa orang yang bisa merasakan betapa lebih baik tidak di Jakarta, :)
Memang, tidak semua sependapat mungkin lebih banyak yang tidak sependapat jika lebih suka meninggalkan Jakarta dari pada bersama Jakarta, ahh.. itu tidak penting juga, tiap orang punya pendapat dan pemikiran yang berbeda dalam kehidupannya.
Bagiku sendiri Jakarta memang menarik, tapi kadang menyakitkan, terutama macet, ah.. tidak juga kadang macet malam membuatku bisa menikmati perjalanan. Ga penting juga rupanya kalo membahas menarik dan tidak menariknya Jakarta. Yang jelas ada alasan tersendiri untuk meninggalkan Jakarta, mungkin salah satunya membantu mengurangi kemacetan Jakarta dengan tidak adanya saya di Jakarta, :). Yang jelas juga sabtu malam ini adalah beberapa sabtu malam terakhir ketika di Jakarta, semoga menjadi kenangan, bahwa saya pernah bersabtu malam berkali kali hingga kesekian kali di Jakarta. Salam ngelantur... semoga bisa menjadi inspirasi dan bermanfaat, amin.

Sunday, June 3, 2012

JYTTSDYKI

Jika yang terjadi tidak sesuai dengan yang kita inginkan (JYTTSDYKI), seperti judul lagu-lagu jaman sekarang juga nama grup band jaman sekarang, juga tingkah laku muda mudi yang suka memendekkan kata2 panjang. Ingin ku tulis judul tulisan kali ini sepanjang kata pertama di atas, tapi kepanjangan, yasudah melintas di pikiran ingin memendekkan, tulis saja huruf depannya masing2, jadilah judul yang membingungkan.
Kebanyakan dari kita memang mengalami seperti judul di atas, akibatnya frustasi, macam galau, bingung, stress dan segala macam penyakit pikiran timbul JYTTSDYKI. Kita sudah bikin plan kata orang malaysia, tapi tuhan yang menentukan, itulah ungkapan yang pas untuk menimpali judul di atas. Susah payah kita bikin rencana kita bikin angan angan, tapi apa kenyataannya, koq begini hasilnya.
Hanya sabar dan nerima saja pastinya bisa kita lakukan JYTTSDYKI, harus kita sadari pasti ada manfaatnya mengapa kejadiannya tidak sesuai dengan keinginan kita. Sabar dan menenangkan diri jika memang begitu berat dan tidak bisa di terima, karena semua ada hikmahnya, kita tidak tau, ya kita memang tidak tau mengapa bisa begini dan begitu.
Kita tidak tahu jawabannya untuk saat ini, tapi mungkin lain kali kita baru menyadari hikmah dari kejadian di masa ini. Yang jelas kawan kita berusaha, kita berdoa meminta sesuatu yang kita inginkan, kemudian Alloh tidak mengabulkan doa dan usaha kita, janganlah buru-buru berburuk sangka, justru kita harus berfikir dan kemudian menyadari bahwa apa yang kita inginkan mungkin tidaklah kita butuhkan, mungkin justru akan membahayakan. Alloh lah yang lebih tahu apa yang kita butuhkan, dan yang terjadi mungkin itulah yang kita butuhkan. Ya paling tidak kita di suruh untuk berfikir kembali, kita di suruh untuk segera menyadari siapa diri kita, apa saja yang sudah kita lakukan, dosa apa yang pernah kita lakukan, pikirkan kembali hubungkan kembali, sehingga kita sadar siapa diri kita, semoga bermanfaat, amin.

Saturday, April 7, 2012

Malem Minggu dan Angka Nol

Malem ini rupanya sabtu malem, bulan purnama lagi, bulannya mirip angka nol, mereprentasikan keadaanku kini yang habis keluar dari perusahaan tempatku bekerja. Semua jadi serba berantakan dan serba galau, ya tentu saja itu pasti terjadi dan alhamdulillah masih dalam batas bisa di kendalikan. Dari segi kondisi kantong yang paling berpengaruh, jam kerja berkurang dan jam menganggur  bertambah, tapi bagus juga jadi semakin banyak waktu tersisa untuk di rumah untuk berfikir mencari jalan yang lebih baik, meskipun sekarang audah ada kerjaan baru, tapi bukan itu tujuan akhirnya.
Di kerjaan yang baru semua tentu saja harus dimulai dari awal, dari nol, dari tidak kenal, tidak tahu, tidak biasa, dan tidak-tidak lainnya yang harus segera aku adaptasi agar semua bisa segera berjalan lancar. Ada rasa khawatir yang muncul ketika pertama bekerja, itu memang biasa, takutnya tidak cocok atau tidak sesuai dengan yang selama ini aku pikirkan. Dan memang itu terjadi, tapi harus dipaksakan, supaya semua bisa sesuai keinginan.
Keluar kerja menjadi pilihan, sebab di tempat kerja yang lama masa depan tak begitu terlihat, tak ada perubahan meskipun sudah 5 tahun lebih bekerja. Ironisnya lagi jika melihat rekan senior yang sudah puluhan tahun bekerja ya begitu saja kondisinya, hmmm, menakutkan jika harus seperti itu. Nyaman memang bekerja disana, tapi terlalu menakutkan jika dibayangkan 10 atau 15 tahun ke depan, keluar menjadi pilihan yang baik.
Ibarat berhitung mulai dari nol, kemudian naik sedikit demi sedikit, lambat laun memahami kondisi dan situasinya. Kalo saja matematika tinggal di kali dua, tapi ini lain ceritanya, terlalu sulit untuk mengkali duakan kondisi, naik satu satu saja sudah bagus. Hmm udah kejauhan ngelanturnya.
Yang terpenting sekarang adalah memikirkan apa yang harus dilakukan, tidak ada gunanya jika terus mengingat yang telah lalu, cukup dijadikan pelajaran berharga. Next, semoga kerja yang baru lebih baik, semoga bisa juga membuat pekerjaan sendiri, semoga juga bisa memperkerjakan orang lain, amin ya rabb.

Thursday, April 5, 2012

Galau

Seminggu sudah kerja di tempat yang baru, resign dari kerjaan yang lama, dapet kerjaan baru. Berhijrah awal niatnya suasana di tempat yang dulu sebenernya sudah asik, sudah enak mengalir seperti air, terlalu mudah, terlalu indah, terlalu enak seperti di puncak. Justru beginilah kawan suasana yang  menipu, serasa di puncak tiba-tiba jatuh dan terbanting siapa yang tahu, terlena dengan suasana yang nyaman, diam saja disitu menikmati suasana dan tidak kemana-mana.
Tentu saja berhijrah jadi pilihan kalo sudah begini, mencari tempat baru dengan suasana baru, meskipun belum tentu enak, dengan orang baru. Pusing lah awalnya, adaptasi tidak semudah seperti yang dipikirkan. Hah lebih baik diam saja, biarkan semua berjalan apa adanya, yang terpenting adalah niat yang sudah tertanam, semoga semua membawa kebaikan. Kebaikan dalam keIslaman untukku dan keluargaku, kebaikan sisi kantongku, kebaikan untuk semua orang yang kutemui, amin.

Sunday, January 29, 2012

Bogor dan Malang

Minggu ini tumbenan bisa libur dia hari, sabtu kosong minggu melompong, ga ada kerja ga ada tugas ga ada uang lemburan. Sabtu seharian bosen juga di rumah, cuma main internet, main fesbuk mirip anak muda tapi sudah tua (agak tua/belum tua bangetlah). Malem minggupun begitu di lalui dengan sepi dan sendiri, dari kemaren-kemaren juga memang sendiri, maklumlah anak istri selalu lagi di kampung, jadi bang toyib dulu lagi dan lagi sementara waktu yang tidak di tentukan. Untunglah malem minggu ini tidak seluruhnya dilalui dengan sendiri, jam 8 malem ada teman datang tiba2, tanpa di undang tanpa di minta dia tiba di depan pintu, biasa bro, di rumahku ada internet geratisan jadi bisa sedikit menarik perhatian untuk di kunjungi, haha, lumayan yang penting malem minggu ga terlalu sepi.
Ku biarin aja itu temen utak atik internet, ku tinggalkan nyuci baju yang sudah hampir membusuk, seminggu mereka menunggu untuk di bereskan malam ini, ya, malam minggu nyuci baju, indah sekali kawan, lebih indah jika malem minggu pacaran, tentu saja. Di lanjutkan dengan jalan-jalan, bukan arti sebenarnya kawan, ngapain jalan jalan sesama jenis, arti tepatnya memang sudah jam sepuluh malam, ya kita cari makan. Tentu saja bukan tempat yang romantis kawan, ngapain, kan cuma sama kawan, nasi goreng saja sudah cukup. Tentu saja sebelumnya kami berkeliling, lagi-lagi bukan untuk nyari tempat romantis buat makan malam kawan, nyari warung yang porsinya sedikit jumbo dari warung sekitarnya, tepatlah pilihan kami pada warung nasi goreng saja. Malam minggu di habiskan dengan begadang, ngobrol ga jelas topik dan tujuan, asal bacot orang betawi bilang, yang penting sedaplah malam itu bisa begadang (harusnya ga di banggain kawan yang seperti ini).
Esok pagi datang lagi teman, yang emang udah janjian mau ke Bogor, ada sedikit kerjaan. Ok lah pagi itu bertiga kita jalan bawa dua motor, ga ada asiknya sepanjang perjalanan, macet pastinya. Jakarta memang begitu, kalo hari kerja macet di kotanya, kalo hari libur macet di pinggiran kotanya, analisa sendiri kawan kenapa bisa begitu, kalian pasti tahu. Bogor dingin kotanya sedingin kota Malang yang pernah kurasakan sepuluh tahunan yang lalu, ketika masih kuliah disana, Malang kota yang indah. Gara-gara perjalanan ke Bogor kawan pikiranku serasa melayang ke sepuluhan tahun yang lalu, serasa kubayangkan aku berada disana, melintasi jalan disana, padahal beda kawan, tentu saja banyak yang setuju kalo Malang jauh lebih indah dari Bogor.
Yang sama cuma dinginnya saja sepertinya, gerimisnya juga mirip, beberapa tumbuhannya di sekitar jalanan juga lumayan mirip, tapi tentu saja malang lebih indah, karena aku tidak pernah tinggal di Bogor kawan. Indah memang Malang lebih rapih, lebih bersih, lebih banyak kenangan, lebih banyak hal indah, lebih banyak semuanya lah. Bogor dan Malang kawan, sama tapi beda indahnya.
Buyar sudah lamunanku, sampai di tempat tujuan, orangnya yang di temui belum juga datang, yasudah bertiga kuluyuran dulu. Mampir ke rumah bibi temanku, istirahat, sholat, makan, tentu saja gratis, ini bukan di warung, kita tamu masa harus bayar, nasi padang enak sekali mana geratis lagi. Telpon berdering orang yang di tunggu sudah datang, biarlah gantian dia yang nunggu, ujar kawanku, bisa aja dia bales dendam. SUdah jamnya kita lanjutkan perjalanan, kembali menemui orang yang sudah menanti dan dinanti, kerja di lakukan dan hingga datang waktunya pulang.
Hujan, gerimis menemani perjalanan motor kami bertiga. Enak saja aku di bonceng, jadi kembali kupasangkan pikiranku buat merasakan kembali situasi Malang di kota Bogor ini. Kali ini lain, ini sudah sore, ku setting otakku bagaimana sore hari di kota Malang, indah, matahari meredup dibalik pegunungan, tapi sayang di bogor tidak ada pegunungan yang seperti di Malang. Ku paksakan ada pegunungan di lamuananku di kota Bogor, kupaksa seindah mungkin menyerupai kota malang, indah kawan sungguh indah kota Malang di kota Bogor sore ini.
Namun sial jam rupanya menunjukkan 6 sore, 30 menit lagi menuju maghrib, tentu saja gelap dan kami lupa kalau salah satu motor kami mati total kelistrikan lampunya, masih bisa di starter untungnya. Kami lupa memperbaikinya, kami mencari bengkel secepat mungkin mengejar malam, kalau tidak bisa gelap kawan, jalanan di depan kami nanti malam, tanpa lampu dari Bogor ke Ciputat, mungkin bisa selamat jika pelan pelan, tapi tidak selamat dari Polisi jalanan, hmm itu dia yang penting kawan, lebih baik duit buat benerin lampu dari pada di kasih preman berseragam itu, ya sudah ku putuskan mencari bengkel saja.
Kawanku asal belok saja ke bengkel, dia mau benerin lampu motor belok ke bengkel tambal ban, tentu saja salah kawan. Bapak bengkelnya ngutak ngatik lampu motor terlalu lama, kami tidak yakin dia bisa menyelesaikannya, yasudah kawanku itu kusuruh kasih duit saja, mendingan kita jalan lagi, toh preman berseragam itu beberapa kilo lagi dari sini, selepas beberapa kilo tersebut kita pelan saja, kita benerin lampu sesampai di rumah, bagaimana, saranku padanya begitu. Mereka ok saja. Yasudah kita tancap jalan lagi menuju rumah ke Ciputat.
Syukurlah kawan, selama di perjalanan beberapa kali ketemu preman berseragam, tapi kami lolos, lolos dari palakan mereka, xixixi. Dan sampailah malam itu di rumah sehabis maghrib, untung saja masih sempet solat maghrib di rumah, alhamdulillah. Kota Malang ada di Bogor hari itu di lamunanku, indah sekali sepuluhan tahun lalu memang.

Hari Ini dan Besok

Hari ini, seolah menunggu sesuatu yang sudah lama di nanti kehadirannya, apakah sesuatu itu benar-benar akan datang? Tidak tahu, hanya Alloh Ta'ala yang tahu. Menanti bukan hanya menanti, berusaha mewujudkannya dengan berbagai cara, dengan berbagai usaha mengejar, menjemput, menarik, mengambil, apalah itu semua usaha telah dilakukan untuk sebuah harapan, harapan besar yang semoga tidak mengecewakan.
Hari ini, semoga menjadi hari yang baik, hari yang memberikan perubahan dari sebuah perjalanan yang agak panjang. Enam tahun sudah di habiskan, dari lajang sampai sekarang punya sebuah keluarga, perlu adanya perubahan, yang memang sudah lama di nantikan. Hari ini semoga menjadi hari yang menentukan perubahan.
Tapi jika hari ini, jika hanya ada sebuah kegagalan, semoga hati ini tidak sampai kecewa. Persiapkan mental, persiapkan diri, persiapkan air mata, jangan sampai mengalir, jangan sampai menyesali. Tetap semangat jika hari ini tidak sesuai harapan. Tetap berusaha untuk mengejar lagi, menjemput lagi, menarik lagi dan mengambil lagi, tetap berusaha untuk sebuah perubahan yang di impikan.
Semua hanya usaha, jawabannya hanya gagal dan berhasil. Tidak menyesali kegagalan, kata orang kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, kata orang, orang yang berhasil adalah orang yang pernah belajar dari kegagalan, tetap semangat. Jika memang hari ini memberikan kebaikan, bersyukur itu mutlak di perlukan, sehingga keberhasilan-keberhasilan berikutnya tetap mengantri dan menanti untuk dilakukan, kata orang, bersyukur akan menambah nikmat, itu memang benar. Semoga hari ini baik.

Tuesday, January 24, 2012

Awali Dengan Yang Baik

Pagi yang cukup cerah, dingin suasana di musim hujan, tapi langit tidak mendung muram, semalam habis hujan jadi pagi ini adalah cerah tapi dingin. Situasi yang jarang terjadi, indah sudah beberapa hari ini, walau tak seindah suasana kantongku di tanggal 25 akhir bulan ini, hmm. Ah jangan lagi mengingat yang tidak enak, padahal sebentar lagi juga kantong kembali terisi, insyalloh beberapa jam lagi. Tentu saja berharap hari ini jadi hari yang sangat baik, suasana begitu baik, kantong akan kembali baik, menata hati supaya tidak lari kemana mana hari ini.
Ngaji di awal hari setelah sholat subuh juga jadi awal yang baik, buka laptop seperti biasanya, analisa dan bikin sedikit deal, selanjutnya tinggal menunggu hasilnya sambil melakukan aktifitas harian seperti biasanya juga. Hanya berharap hari ini akan sangat baik, insyalloh, cukuplah ngelantur pagi ini, hmm.

Tuesday, January 17, 2012

Bau Wangi Dosa

Hai wanita, siapa dirimu
Lihatlah dirimu, penampilanmu, sifatmu
Jika kau muslimah
Tidakkah kau tahu apa itu aurat
Tidakkah kau tahu dimana seharusnya kamu
Tidakkah kau tahu aturan agamamu

Jika kau memang tahu
Turutilah perintah agamamu
Gantilah penutup auratmu
Jangan kau percantik dirimu di depan orang lain
Jangan kau buat buat kelakuanmu
Jangan kau maniskan kata katamu
Jagalah keIslamanmu

Kau ini tahu
Kenapa sengaja seperti itu

Hilang akalkah dirimu
Kau gadaikan agamamu

Kau gadaikan dengan lirikan lelaki
Kau gadaikan dengan pujian lelaki
Kau gadaikan lagi

Dosa untukmu dosa juga pasti untukku
Jika melihatmu seperti itu
Terus percantik dirimu

Nasi Goreng dan Wanita Metropolitan

Kemaren setelah seharian muterin Jakarta, akhirnya di tutup sore harinya singgah di salah satu gedung baru yang cukup mewah dan tinggi yang terletak di kuningan, tepatnya dekat terowongan casablanca. Berdua dengan kawan, berboncengan cukup menghemat tenaga dan biaya kalo bisa seperti ini, cukup juga menghemat pikiran yang tidak tersita dengan strees karena kemacetan kota ini.

Sesampai di gedung itu sebentar beristirahat dan kemudian menjelang sholat maghrib, cukup ramai mushola yang terletak di besmen itu, meskipun yang terlihat yang sholat sepertinya hanya sopir dan karyawan karyawan cleaning servise saja, tapi cukup banyak didominasi mereka. Selepas sholat kami keluar untuk mencari pengganjal perut yang sedari pagi setengah siang baru di isi dan malem ini baru diisi lagi. Nasi goreng cukuplah jadi santapan yang murah tapi lumayan sedap, karena tidak ada pilihan lain yang cocok dengan kantong kami. Sehabis memesan dua piring kami lalu ngobrol sambil duduk menunggu nasi goreng yang sedang di proses sama abang nasi goreng.

Kawanku itu cukup sering datang kemari, sehingga cukup tahulah dia dengan sekitar situ, mengawali obrolannya dia membicarakan laki2 dan perempuan yang sedang duduk di seberang, di warung sate padang, mereka sepertinya terlihat cukup lama berada disana dan cukup ramai obrolanya. Tampang objek obrolan kami itu memang cukup wah... terlihat begitu kekotaaan penampilan mereka. Asik banget mereka, tapi koq tidak buru-buru ya... padahal sepertinya mereka belum sholat maghrib loh, kawanku itu berkomentar. Memang kami tadi sholat di awal sehabis adzan. Kemudian aku menimpali dengan berkomentar juga, coba aja tadi di mushola lu perhatiin ga? ada berapa orang cewe disana yang sholat. Cuma 5 orang, benar sekali, sedangkan gedung ini terlihat begitu lebih ramainya jumlah perempuannya di banding laki2nya, yang lain pada sholat dimana ya? Seandainya berhalanganpun berapa persen sih. Hm... temanku itu bertanya dan menjawab sendiri pertanyaanya yang dia tanyakan sendiri dengan pengamatannya.

Tragis, kemudian dia bilang, dan aku cuma mendengarkan. Kenapa bisa begini ya jaman sekarang, dia mulai lebih mengomentari perempuan menurut pandangan dia sendiri, dan aku hanya mendengarkan saja, dia memulai lagi. Cewe disini termasuk parah banget, aku masih mendengar dia, pakainnya lu liat deh, pergaulannya lu liat deh bebas banget kaya begitu ya. Apa mereka tidak tahu ya, padahal kalo lu tanya mereka agamanya apa, pastinya dia menjawab Islam, gua yakin banget kebanyakan mereka itu Islam, kawanku itu masih ngomong sendiri dan aku masih setia mendengarkan.

Bayangin aj pren, agama Islam tapi sepertinya mereka sama sekali ga make agamanya buat pergaulannya. Kemudian aku membalas, jangankan mereka yang tidak tahu, mereka yang tahu aj masih sengaja berbuat yang lebih parah. Hm...iya juga ya, kawanku itu mengiyakan ucapanku. Coba aja lu liat mereka yang kuliah di universitas Islam, mereka yang ngaji di pesantren, mereka yang sekolah di Aliyah atau Tsanawiah, mereka cewe2 yang sebenarnya tahu bagaimana bergaul bagaimana bersikap, bagaimana kesehariannya yang seharusnya benar menurut Islam, masih juga bergaul sesuka hati mereka, apalagi dengan mereka yang tidak tahu? Kawanku itu seperti bingung mencari kata-kata untuk melanjutkan pembicaraanya, dia kemudian hanya bisa berkata, sungguh berat ya ujian kehidupan di zaman akhir begini.

Tak terasa rupanya dari tadi kami mengobrol dan sudah menghabiskan nasi goreng, sudahlah mendingan kita masuk dan lanjutkan kerjaan kita saja, kataku. Dia menurut saja dan kemudian kami melanjutkan tugas kami dengan tetap di bebani pertanyaan dan seolah sebuah tanggung jawab yang tidak pernah kami tahu, siapa seharusnya yang menyelesaikan tanggung jawab itu. Hm...

Saturday, January 14, 2012

Malam Malam Malam

Pukul 1:43 tengah malam. Apa salahku jika terbangun di tengah malam, pikiran seperti ling lung. Semua terasa berantakan aku mencari-cari seolah semua hilang. Ya semua yang kurasakan jadi milikku telah pergi telah hilang mereka sudah tidak ada  di dekatku, padahal memang aku tahu mereka tidak ada di dekatku dari dulu sampai sekarang dan entah sampai kapan. Sedih sudah tidak berguna, menangis siapa yang peduli, hati ini terlanjur keras malam ini, sekeras batu, lebih keras mungkin. Di tempa waktu, terbiasa dengan masalah, terbiasa menyendiri, aku hanya hidup seperti melanjutkan rasa kesepian sambil menunggui mati. Tidak ada dan tidak ada, kata itu yang setiap waktu mengganggu pikiranku, dari pagi sampai pagi lagi dari malam sampai malam lagi, dari hari hingga ke tahun, mungkin sampai mati, aku takut jika itu terjadi.
Di tengah malam ini ingin ku kembali menenangkan hati dan memejamkan mata, biarlah semua ini kurasakan sendiri, hal yang tak pernah terbayangkan harus terjadi. Ku tahu ini adalah jalan terbaik yang ku butuhkan, walaupun bukan jalan terbaik yang ku inginkan. Ku hanya bisa berdoa, "Terserah padamu ya Rabb".

Tak Bisa Bicara

Terlalu lama sendiri
Terlalu lama sepi
Tak ada siapa siapa setiap hari
Tak pernah bicara bibir ini, sepi, hatiku juga sepi
Terlalu lama, hingga hampir lupa
Setiap kata, kalimat, tak mampu jadi bahasa
Aku lupa bagaimana caranya bicara

Banyak yang ku punya
Tapi semua tidak ada, tidak ada
Semua ku relakan
Semua ku berikan hingga tak tersisa
Tak ada apa apa untuk ku lagi
Apalagi bahagia, tidak ada

Entah apa yang mereka pikirkan
Sedikitpun tak pedulikan diriku
Yang walaupun tertawa, tapi hati menangis
Aku sungguh malu menuliskan keluh hatiku
Tapi aku tak mampu, tak mampu


Friday, January 13, 2012

Bukan Tidak Bersyukur

Hari kemarin memang begitu kosong, tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan, kosong seperti halnya rongga ban sepedaku, walaupun kosong hanya berisi angin tapi justru begitu malah bisa berjalan, kosong tapi tetap di bayar. Mau pulang siang juga ga enak, belum jamnya, ya sudah ngeluyur saja seperti ayam kehilangan induknya. Perjalan ngeluyur sedikit terganggu beberapa kali karena memang Jakarta tidak pernah sepi dari macet, di tambah gerimis yang datang suka-suka dia, walaupun matahari sedikit panas tapi gerimis juga ikut-ikutan mengguyur, tambah meriah deh macetnya jalanan Jakarta. Dari arah casablanca pikiranku menuju arah D*R/M*R, bukan untuk ikutan sidang paripurna tapi  memang ada kawan disana, aku ada perlu sedikit sama dia.
Melewati ujian macet dan gerimis akhirnya sampe juga disana, di pintu masuk cuma di tanya bawa apa mau kemana dan lolos deh, pengamanan di tempat seperti itu memang kurang, ini berbahaya bagi negara sebenarnya, tapi apa boleh buat, kita numpang cuma lewat. Parkir motor dan ngeluyur masuk, di pintu kedua cukup ucapkan username dan password, lagi lagi begitu gampangnya masuk kesana, ngeluyur lagi sampailah pada lantai tujuan, ketemu sama kawan. Alhamdulillah baik juga orangnya, baru duduk sudah langsung disediain teh manis panas, begitu cocok dengan dinginya ruangan disana dan di tambah musim hujan yang dingin begini.
Beberapa menit duduk kawanku yang satu ini langsung aja nerocos masalah SPSI di kantor, yang memang sekarang kurang menggigit seolah serigala yang kehilangan taringnya, cuma bisa mengendus kemudian menjilat saja, mengendus masalah dan menjilat supaya tetap tenang tidak terjadi apa-apa. Masalah penyesuaian UMR yang dia omongin, kenapa sampe tanggal begini tak kunjung ada penyesuaian UMR yang sudah naik beberapa persen itu. Ya memang benar, perusahaan memang harus menyesuaikan upah pegawainya kalau ada perubahan UMR, selain untuk menyesuaikan dengan inflasi tentu saja kerja beberapa tahun pegawainya harus tetap di hargai dengan tetap menjaga kesejahteraan pegawai-pegawainya, mudahnya biar gaji pegawai tidak ketinggalan mahalnya sama harga sayur-sayuran di pasar.
Memang ada ketidakadilan saat ini, pegawai yang baru masuk gajinya sudah menyamai bahkan ada yang melebihi pegawai yang sudah 20 puluhan tahun bekerja, gimana ini??? Memang benar kawanku itu, ketidakadilan menjadi faktor beberapa pegawai jadi kurang bersemngat kerja, bukannya para pegawai tidak bersyukur dengan  kondisi yang ada, bersyukur adalah suatu keharusan tapi ketidakadilan tetap harus di tegakkan, setidaknya begitu seharusnya, tidak diam saja ketika ada sesuatu yang tidak beres.
Sampai kapan ya? tidak di negara tidak di tempat kerja, begitu banyaknya ketidakadilan, bahkan beberapa saudara kita merasakan ketidakadilan dikeluarga, hmm, sampai kapan?

Sunday, January 8, 2012

Malem Senin Dingin

Masih di musim dingin tahun ini, hampir seluruh negeri merasakan hal yang sama, yaitu dingin dan basah, musim hujan. Hari ini minggu malem senin tentunya, menjelang besok hari kerja, itu yang mengganggu pikiranku barangkali pikiran orang-orang lain juga yang pingin menikmati libur akhir pekan lebih lama. Biasa saja hari ini ga ada yang istimewa, hampir seharian air rajin banget turunnya, alias hujan. Hanya tadi pagi aj, biasa kalo hari minggu ada kegiatan olahraga mingguan main futsal. Sepulang futsal mampir ke rumah temen nganterin temen yang nebeng nyecan (scan) brosur brosur dagangan (proyek) dia. Pulang agak sore padahal belum juga solat dluhur kelupaan waktu saking enaknya mainin mesin scan hingga lupa jam berapa.
Malem gini baru terasa semua capeknya, mulai dari ujung jari kaki sampe ujung kepala pegel pegel semua. Enak nih kalo situasi seperti ini buat tidur, udara adem, badan pegel pegel kalo di taro di atas kasur bisa langsung ngorok.
Hidup kalo di jalaninn seperti ini rasanya rata-rata saja, alias datar-datar saja. Nggak ada perkembangan, nggak ada perubahan, nggak ada sesuatu yang bisa membuat rutinitas berubah drastis. Kalo di bilang bosen ya bosen kalo di bilang enak ya enak, kalo di bilang capek ya capek. Terserah hidup ini mau di buat apa, kalo datar datar saja semua bisa di atur. Tapi ya gitu ibarat main catur kaya kuda bingung, abis maju mundur lagi, maju lagi mundur lagi, ya lama lama kalah sama lawan yang terus menyerang.
Kalo mau perubahan kata politisi yang di tipi tipi itu harus ada tindakan, sedikit bingung menelisik maksudnya. Apa ya yang bisa di lakukan untuk mendapatkan perubahan. Kepala ini berpikir mengingat ingat kata kata politisi di tipi itu, menimbang nimbang seberapa rumitnya, seberapa bagaimana caranya. Kok bisa ya dia berkata seperti itu, sepertinya dia itu suka melakukan perubahan, sering melakukan perubahan, tapi perubahan apa ya yang pernah dia lakukan, kok mudah banget dia ngomong "untuk perubahan harus ada tindakan. Melihat gayanya dia di tipi, melihat bajunya pake dasi, melihat dan melihat lagi logat bicaranya yang kuenceng dan begitu bergelora kepala ini kembali berpikir jangan-jangan ini orang emang tukang jualan perubahan, bisa beli ke dia nggak ya, biar hidupku yang datar datar saja ini bisa berpindah maju menyerang seperti kuda catur yang melibas raja lawannya. Hmm... Selamat menikmati pikiran ngelantur untuk menunggu jam kerja besok pagi.

Friday, January 6, 2012

Mencari Semangat Yang Hilang

Pagi yang agak suram temaram mendung menggelayut langit Jakarta, musim hujan maklumlah kondisinya seperti itu. Pusat kota sepertinya lagi hujan deras, mendung di arah utara jauh lebih gelap dari disekitaran sini, udara di sini jadi lebih dingin di pagi yang masih dingin ini. Tetangga sebelah menggantungkan satu persatu jemurannya di depan teras yang dipasangi sebilah kayu tergantung dua tali kanan dan kiri, ikut pula ku gantungkan angan anganku melayang di pagi yang dingin ini. Percuma sinar matahari tak bisa lewat menembus mendung hitam, seperti percumanya jemuran yang di gantung tetanggaku itu. Percuma pula angan angan ini terus ku gantungkan di kepalaku. Semilir anginlah setidaknya membuat baju baju itu sedikit hilang bau apek nya, seperti itu pula ku anggapkan angan anganku bagai hanya ada sedikit harapan untuk sebuah masa depan. Ya sedikit pula seperti hilangnya bau apek itu pula, harapanku seolah merangkak tak pernah sampai.
Kontrakan ini dua belas rumah, kanan enam dan kiri enam seimbang dengan satu pintu di depan berpagarkan setinggi dada orang dewasa, dan ujung belakang tertutup rapat setinggi dinding dinding rumah bersambung kanan dan kirinya. Satu pintunya, walaupun berlokasi di pinggiran kampung rawan pencurian tapi aman saja, desainnya yang seperti itu membuat siapa saja yang berniat jahat mengurungkan niatnya, takut terjebak tak bisa keluar kemana mana. Pikiranku pun kini seperti itu, terkungkung hanya berada di sekitaran kontrakan, tidak kemana mana, padahal hampir delapan puluh persen jalanan jakarta sudah kuhapalkan, tapi pikiran ini selalu terkungkung disini saja, hanya di sekitar kontrakan, kalau seperti ini kapan majunya.
Anak anak tetangga pagi sudah ribut saja, ketawa ketawa. Riang gembira mereka saling kejar bergantian antar teman. Tiga orang saja tapi ramai seperti satu erte. Berisik tapi seneng juga liat senyum tawa mereka. Bener bener teringat Aisyah, lucu anak itu, walaupun belum genap dua tahun sudah pandai berkata-kata, menyenangkan mendengar setiap sesuatu yang di ucapkanya, salah dan lucu, duh anakku.
Anganku semakin melayang jauh, yang biasanya terkungkung di kontrakan ini kini terbang bebas keluar dan kuharapkan mampu menembus mendung hitam kota ini, datang kesana dimana anak dan istriku jauh berada. Bersama mereka tersenyum dan tertawa membangunkan semangat ini yang telah lama tidur dan cuma ngantuk ngantuk selalu. Ayo bangun semangatku, hidupkan rencanamu, buatlah perjalanan dan tinggalkan jejak di kehidupanmu, ayo bangun "semangatku".