Sunday, November 18, 2012

Musim Hujan Sepertinya

Pagi pagi celana sudah basah walau hanya di pantat, jok motor yang bocor menyedot air hujan kemaren sore, meskipun sudah pagi tetap bisa dirasakan lembebnya kalo di dudukin joknya. Hujan mulai sering di Jakarta, semingguan ini lumayan sering, musim hujan sepertinya sudah mulai. Sepinya suasana di tempat kerja  membawa pikiran ini kembali melamun ke masa silam, ke rumah papan yang akan selalu jadi kenangan, saat musim hujan.
Bila hujan tiba begitu ramainya disana, tanah yang panas merekah seolah sedang minum, pohon yang layu seolah tak minum seabad lamanya, kambing dan sapi yang menahan kepanasan semua serasa lega. Orang kampung yang kebingungan karena sumurnya mengering kembali bisa tersenyum bersama derasnya air hujan.   Rerumputan mulai menunjukkan tunasnya yang kuning kehijauan, udara sejuk di pagi hari bersama matahari yang redup kemerahan di pagi hari menambah betapa baiknya musim hujan yang baru datang.
Hujan lebih sering datang di sore hari, sayang saja kalo musim hujan lapangan jadi becek, meskipun masih bisa bermain bola lebih baik di rumah saja, becek dan tidak menyenangkan bagiku, tapi lain bagi teman yang lain mungkin, becek lapangan bola lebih menyenangkan bagi mereka, bersama derasnya air hujan begitu menyenangkan berlarian di lapangan mengejar bola, kalo aku di rumah saja. Hujan sore hari begitu derasnya, genting2 rumah banyak yang retak dan pecah, bocor disana-sini, dapur yang parah bocornya, kemiringan gentingnya hampir mendekati rata, air kurang lancar turunnya, air pun lebih memilih menetes ke ruangan dapur dari pada memilih meluncur melewati genting dan jatuh di terasnya, begitu ramainya bocor di dapur rumah kami. Begitu sibuknya bapak membetulkan genting yang retak itu dengan mengganti baru, memang ada banyak genting baru di rumah, ketika dulu kami pernah menambah bagian belakang rumah biar lebih luas tersisa begitu banyak gentingnya yang masih bagus, kalo musim hujan masih bisa digunakan untuk mengganti yang retak.
Emak juga tak kalah sibuknya, segala macam perabot di ambil dan di tata sedemikian rupa mengikuti bagian dapur yang terkena tetesan air, menadah tetesan-tetesan air supaya tidak jatuh ke lantai tanah rumah kami, ember, panci, bak air hampir semuanya bergeletakan mencegah menadah tetesan air dari genting yang bocor. Begitu ramainya rumah kami perabot berserakan kemana-mana kalo sedang hujan. Aku tak memilih main bola kalo hujan datang, di rumah saja.
Di luar rumah air begitu derasnya, kubangan dimana mana, dinding bambu tak bisa mencegah air yang mau masuk kerumah, segera saja aku bawa pacul mengitari rumah ku bikin parit-parit kecil ku lancarkan air biar tidak masuk rumah, lari kedepan kebelakang sibuk sendiri di luar seperti penjaga pintu air yang mondar mandir takut terjadi banjir, banjir kecil air hujan yang masuk rumah lantaran kubangan air di teras yang masuk ke rumah. Asik memang sambil berhujan-hujan, dan tak usah mandilah sehabis itu.
Begitu menyenangkannya musim hujan di kala itu, tiap sore, selalu begitu. Namun hujan kadang juga menakutkan, dikala mendung begitu hitam di arah barat, begitu mendadak datangnya, angin kencang pasti datang, hujan menjadi menakutkan bagi kami. Rumah kami yang memang terletak di pinggiran sebelah barat kampung menjadi salah satu tameng bagi rumah rumah yang lain. Begitu berhadapan langsung dengan hamparan sawah di sebelah baratnya, indah memang bila sore tiba, sunset selalu bisa kami nikmati tiap sore menjelang maghrib bila cuaca cerah. Hijaunya hamparan sawah manambah indahnya pemandangan bila menatap ke arah barat daya, apapun yang di tanam petani di sawah semua bisa terlihat hijau dan indahnya dari rumah kami. Petani-petani yang sedang sibuk di sawahpun bisa terlihat dari rumah kami, sungguh posisi yang bagus bila suasana cerah, dan posisi yang berbahaya bila hujan dan angin seperti ini.
Rumah kami yang hanya papan kayu dan beberapa bagian dinding bambu menjadi mengkhawatirkan bila hujan dan angin kencang datang, tak jarang seisi rumah menjadi ketakutan dan terpaksa harus keluar rumah dan berdiri di teras bila angin kencang mengancam. Pernah juga beberapa rumah di sekitar menjadi roboh di terjang angin kencang saat musim hujan. Pilihan keluar rumah dan berdiri di teras menjadi kebiasaan seisi rumah kami bila hujan dan angin kencang. Tak jarang angin yang begitu kencang membawa dahan-dahan pohon entah dari mana asalnya jatuh di jalanan di depan rumah kami berserakan, kami pun membersihkannya setelah hujan dan angin usai, begitu lega setelah semuanya berlalu selamat, semua keluarga keluar rumah dan berada dijalanan jika hujan dan angin usai, mereka seolah peduli satu sama lain, ingin tahu apakah semua selamat seisi kampung ataukah ada yang tertimpa bahaya setelah angin dan hujan yang begitu menakutkan. Seolah seisi kampung merapikan dan membetulkan kembali yang sudah di acak-acak angin kencang, sampah-sampah dan dedaunan semua di bersihkan. Musim hujan selalu membaca cerita, begitu juga musim hujan di masa lalu di rumahku dulu.