Saturday, April 30, 2011

Hanya Diam

Sabtu minggu ini bener bener libur total, tidak ada pekerjaan, tidak ada rencana, tidak ada yang di rumah, tidak ada yang bisa di kerjakan. Hmm.. rumah kosong tinggal aku sendirian, naseb lagi buruk ya begini. Bahkan hari ini keluar rumah pun tidak sama sekali, mulai dari pagi sampe malem dan mungkin sampe ketemu besok pagi ga bakalan menginjak tanah yang diluar, hmm...keterlaluan. Untungnya masih ada cadangan buat bertahan di dalam rumah, jadi males keluar dan emang ga ada perlu buat keluar, andai saja ini berlangsung selama seminggu seperti ini, bisa jadi beruang kutub yang jarang keluar dan banyak tidur di musim dingin.
Beberapa kali telpon berdering dan hanya waktu itu saja mulut ini bicara, emang mau bicara sama siapa lagi, ga ada orang lain disini. Terhitung dari pagi bicara cuman tiga kali sesuai jumlah telpon berdering saja, hmmm keterlaluan, seharian ini hanya diam, entahlah besok.

Friday, April 29, 2011

Masih Seperti Yang Dulu

Siang ini aku merasa malu dengan diriku, ini adalah masalah pekerjaanku. Seorang lulusan teknik listrik yang mendapat jatah pekerjaan seorang kurir, aku nggak tau apa salahku sehingga terkadang pekerjaan ini layaknya seperti sebuah hukuman, bukan seperti sebuah hoby atau kesenangan, taukah kawan ini sungguh tidak menyenangkan.
Tugas hari ini adalah mengantarkan sebuah surat, sebut saja "berita acara pekerjaan", ke sebuah perusahaan besar. Dengan agak malas ketika sampai di gedung yang aku tuju, kutanyakan kepada seorang petugas security yang aku lihat sedang berjaga di pos masuk gedung, akan tujuanku yang detil, petugas tersebut memberitahuku bahwa aku bisa menemui bapak Supardi di lantai 8 gedung tersebut. Langsung saja aku menuju tujuanku untuk mengantarkan surat tersebut. Dan akhirnya selesaiah tugasku itu.
Di sela tugasku hari ini sebagai tukang antar surat, aku mencoba memecah situasi yang ada dengan kadang kadang ngobrol sedikit dengan orang yang ku temui, tak terkecuali dengan pak supardi ini.
Dalam cuplikan obrolan itu seperti ini kira-kira, ada satu pertanyaan dari pak supardi yang membuatku malu. Pak supardi menanyakan asalku, karena memang gaya ngomongku terlihat sangat jawa dan pak supardi tentunya jawa karena memang dari namanya yang jawa itu. Kemudian dia melanjutkan menanyakan kondisiku saat ini, tentang rumah, anak bahkan sampai istri, suasana sedikit berubah seperti sebuah interogasi polisi kepada copet yang tertangkap massa, duh nasibku, aku membayangkan kondisiku yang buruk ini, dibalik pertanyaan seseorang.
Iya memang aku saat itu menyadari dengan sesadar sadarnya bahwa aku yang sudah lima tahun lebih di kota besar ini, masih juga seperti ini. Pertanyaan pak supardi seperti memperolokku dengan halus, dan hati ini terasa mau menangis walaupun muka saat itu hanya nyengir, hm..., begitu rupanya diriku, terimakasih pak supardi yang sudah menjadi cermin, sehingga aku bisa melihat diriku saat ini, hm...

Gelap dan Sepi

Ini adalah hari kedua rumahku terasa sepi, tidak seperti biasanya, ketika ku pulang kerja ketika pintu rumah tertutup namun dari luar terlihat cahaya lampu menyala terang. Memang sejak kehadiran Aisya di rumah ini semua terasa ramai dan gembira, setiap hari selalu ada tawa dan teriakan yang menghiasi rumah ini. Lari lari kecilnya yang baru bisa berjalan dan berlari membuat hati ini terasa tenang dan senang melihatnya. Candanya yang riang dan lucu membuat hati selalu ingin tersenyum ketika melihatnya.
Namun kali ini tidak. Sore ini serasa sepi, gelap terlihat dari luar, sudah dua hari tawa aisya tidak terdengar terasa sepi sekali, hidup terasa sendiri, tidak ada yang bisa diajak bercanda, tidak ada yang bisa diajak bericara, sungguh sangat sepi.Tidak ada yang membukakan pintu seperti biasanya, ketika aku menyandarkan sepeda motorku, tidak ada kata "ayah" lagi memanggilku dan menghilangkan penat di kala tubuh ini terasa lelah sepulang kerja. Aisya anakku dan ibunya tidak lagi ada di rumah ini, aku sungguh merasa sepi.

Friday, April 1, 2011

Alhamdulillah

Terlalu banyak mengeluh selalu ku dengar dari hampir setiap orang yang kutemui, tak ada rasa bersyukur atas sesuatu yang sedang dirasakannya. Entahlah apa yang ada di pikiran mereka sehingga sulit sekali menikmati apa yang telah Alloh berikan. Terlalu sulit untuk menghitung apa yang mereka dan kita terima, tapi anehnya keluhan keluhan itu hampir terdengar di setiap mulut yang berkata.
Aku berfikir sejenak mungkinkah mereka menggantungkan kebahagiaan mereka pada dunia ini, pada apa yang mereka lihat, bukan pada apa yang akan mereka temui di ujung kehidupan mereka masing masing, aneh. Jika begitu tak akan kebahagiaan ditemui, hanya keluhan yang keluar dari mulut setiap mereka berbicara.
Janganlah kebahagiaan digantungkan pada dunia, pada rumah mewah, pada keinginan atau cita cita, pada uang, dan pada apa saja yang sejatinya hanya sementara saja di kehidupan ini. Kebahagiaan hanya akan di temui pada jiwa jiwa yang pandai bersyukur, pada jiwa yang selalu merasakan indahnya anugerah Alloh. Berlatihlah menikmati nasi dan garam untuk memperoleh kebahagiaan dunia akherat.

nasi dan garam = penderitaan
Jumat 11.36 01042011