Friday, April 29, 2011

Masih Seperti Yang Dulu

Siang ini aku merasa malu dengan diriku, ini adalah masalah pekerjaanku. Seorang lulusan teknik listrik yang mendapat jatah pekerjaan seorang kurir, aku nggak tau apa salahku sehingga terkadang pekerjaan ini layaknya seperti sebuah hukuman, bukan seperti sebuah hoby atau kesenangan, taukah kawan ini sungguh tidak menyenangkan.
Tugas hari ini adalah mengantarkan sebuah surat, sebut saja "berita acara pekerjaan", ke sebuah perusahaan besar. Dengan agak malas ketika sampai di gedung yang aku tuju, kutanyakan kepada seorang petugas security yang aku lihat sedang berjaga di pos masuk gedung, akan tujuanku yang detil, petugas tersebut memberitahuku bahwa aku bisa menemui bapak Supardi di lantai 8 gedung tersebut. Langsung saja aku menuju tujuanku untuk mengantarkan surat tersebut. Dan akhirnya selesaiah tugasku itu.
Di sela tugasku hari ini sebagai tukang antar surat, aku mencoba memecah situasi yang ada dengan kadang kadang ngobrol sedikit dengan orang yang ku temui, tak terkecuali dengan pak supardi ini.
Dalam cuplikan obrolan itu seperti ini kira-kira, ada satu pertanyaan dari pak supardi yang membuatku malu. Pak supardi menanyakan asalku, karena memang gaya ngomongku terlihat sangat jawa dan pak supardi tentunya jawa karena memang dari namanya yang jawa itu. Kemudian dia melanjutkan menanyakan kondisiku saat ini, tentang rumah, anak bahkan sampai istri, suasana sedikit berubah seperti sebuah interogasi polisi kepada copet yang tertangkap massa, duh nasibku, aku membayangkan kondisiku yang buruk ini, dibalik pertanyaan seseorang.
Iya memang aku saat itu menyadari dengan sesadar sadarnya bahwa aku yang sudah lima tahun lebih di kota besar ini, masih juga seperti ini. Pertanyaan pak supardi seperti memperolokku dengan halus, dan hati ini terasa mau menangis walaupun muka saat itu hanya nyengir, hm..., begitu rupanya diriku, terimakasih pak supardi yang sudah menjadi cermin, sehingga aku bisa melihat diriku saat ini, hm...

No comments:

Post a Comment