Saturday, May 14, 2011

Ingin Pulang

Malam minggu yang sepi, menjelang maghrib hujan turun rintik-rintik, gelap, sedikit terang makin lama makin deras, makin lama makin malam. Hujan begitu derasnya bebarengan dengan lantunan adzan maghrib. Aku sedang menunggu untuk sholat maghrib, dengan tubuh lelah dan merebah. Usai sholat maghrib mata terasa berat, seharian bekerja walaupun tidak terlalu berat tapi begitu jauhnya perjalanan menjadikan benar-benar berat di kala sampai di rumah. Tertidur sudah tubuh ini secara tidak sengaja karena begitu lelahnya, karena begitu sepinya hati ini dan suasana memang benar benar sepi dan dingin malam ini, sehabis hujan.
Pukul sembilan ku terbangun dan tergaket, ternyata lelah telah menidurkan raga ini hingga benar-benar tak sadarkan diri, perut terasa dingin dan lapar, ah... aku juga belum sholat isya tentunya, tidur ini begitu enak hingga melupakan semuanya.
Usai isya ku berjalan menyusuri gang untuk mengisi perut yang lapar tak terkira, aku tak sanggup bila harus tertidur menahan lapar untuk ke sekian kalinya, kali ini bergitu dingin dan berat untuk melakukan yang biasa aku lakukan seperti itu, biarlah aku berjalan untuk mengisi perutku ini.
Rumah kontrakan begitu sepi pukul sepuluh malam, angin dingin bekas hujan seolah menyapu semua penghuni kampung, ke kasur dan kamar tidur masing-masing. Aku berjalan sendiri dari tadi tak kutemui seorangpun hingga sampai di rumah. Suara katak dan rombongan serangga menggoda seolah membawaku ke beberapa tahun silam ketika masih berkumpul dengan orang tua dan saudara, ketika masih bujangan belum menikah semua.
Mundur ke sebelas tahun yang lalu, ketika masih anak anak, ketika masih smp dan ketika masih sma. Rumah papan yang indah dan selalu ramai itu tak bisa terlupakan oleh kerasnya jakarta yang setiap hari ku lewati kujalani dan bikin pusing semua orang. Rumah papan itu yang aku dilahirkan dan dibesarkan disana keindahannya kini muncul kembali malam ini, oleh suara serangga dan katak sehabis hujan.
Dulu sehabis hujan suasana dingin membawaku untuk duduk sendiri di depan rumah papan itu, di kursi dari bambu yang hanya di bentangkan dan di paku kanan kiri itu, kadang di kursi kayu dari pohon yang besar yang di potong begitu saja dan di taruh di depan rumah dilengkapi batu empat biji agar tidak goyah, di situ ku habiskan malam dingin sehabis hujan, di depan rumah papan sewaktu kecil. Ku lamunkan apa yang melintas di pikiranku, cita-cita, obsesi, keinginan, sesuatu yang tak mungkin terjadi, sesuatu yang sudah terjadi, penyesalan, kegembiraan, naksir anak tetangga, rencana main bola, semua terjadi di kursi bambu dan kadang di kursi kayu asal-asalan itu. Malam begitu indah kurasakan, seolah tak ingin masuk rumah jika sudah begitu. Indah benar benar indah, memikirkan sesuatu asal-asalan di malam yang dingin, bersama suara serangga dan katak yang menghibur hati.
Kapan situasi seperti itu bisa terjadi kembali, mungkinkah, mana mungkin, bisa mungkin, pusinglah malam ini aku tak tahu, aku ingin situasi itu mungkin terjadi lagi.

Friday, May 6, 2011

Indah Dunia

Bagiku keluargaku adalah segalanya, mereka semua menjadi penyemangat kehidupanku, memandang anakku menyenangkan hatiku memandang istriku hilang kesepianku. Indahnya bila bersama mereka. Sudah seminggu lebih mereka tidak disisiku, hm... sepi rasanya rumah ini, sepi juga rasanya hati ini. Bikin malas ini susah pergi, bikin ngantuk ini datang lagi, jadinya ya cuman tiduran gak berguna, dari pagi sampe sore hari dikala hari libur seperti ini, sungguh berbeda situasinya dengan seminggu yang lalu, ketika semua masih lengkap ada di rumah ini.
Ini akan berlangsung lama, dua bulan kira-kira, apakah dua bulan juga aku akan merana, oh, sedihnya jika ini terjadi padaku. Mulai-mulai saja aku berusaha membohongi diriku dengan menatap foto-foto anak istriku di komputer, ah tidak bisa, tetap saja sepi yang kurasa. Ku coba lagi menipu perasaanku dengan memutar lagu MP3 koleksiku, tetep saja cuma bikin berisik telinga, yang ada tetangga sewot dan marah-marah ntar jadinya. Huft. Hampir putus asa berusaha menghilangkan rasa sepi yang menyerang bertubi-tubi. Aha.. banyak pakaian kotor, nyuci saja kalo begitu.
Sedikit berhasil menghilangkan rasa sendiri ini dengan berbagai aktifitas di rumah, nyuci, nyapu, masak air, aih..ini macam ibu-ibu saja lama-lama. Lanjut lagi ngepel, ngusir nyamuk-nyamuk nakal, buang sampah... hilang sudah rasa sepi ini.
Beranjak siang semua sudah kulakukan, aku berfikir kembali apalagi yang bisa kulakukan. hm..??? Ah coba saja mikirin ide-ide, cari cara, cari-cari masalah, pemecahannya, solusinya, apalagi? Ah akhir-akhir ini banyak waktuku yang luang, manfaatin aja buat hobi, hobiku apa yah? Koomputer, internet, IT, elektronika, programming, futsal, olahraga, baca buku, jalan-jalan ke kampung, maen ke rumah temen, ah itu saja dulu hal yang bisa menyenangkanku cukup itu saja kutuliskan.
Mulai ku temukan gaya permainanku di kala sepi di tinggal anak istri. Ya jalanin saja hobi-hobi, jalanin saja hal yang bisa memuaskan diri, menyenangkan fikiran, menambah ilmu hilangkan depresi, lupakan pekerjaan yang menyebalkan (menyebalkan atasanya, bukan pekerjaannya), lupakan wajah-wajah idiot supervisor, ah lupakan itu, ingat yang positif saja, ini baru diriku, yag sudah seminggu hilang, kabur seperti orang sakit jiwa yang kabur dari sarangnya di RSJ.
Ku temukan diriku kembali, ku temukan gaya permainan terbaikku kembali, kususun jadwal waktu kosongku, ku isi dengan hobi, ku isi dengan kesukaanku, semua terasa segar, semua terasa ku suka, ah indahnya dunia, semoga bisa berlangsung lama kebohongan ini, berlangsunglah yang lama, selama mereka tidak disini tidak apalah.

Wednesday, May 4, 2011

Berdosakah...

Emosiku semakin memuncak, ga tau kenapa hari hari ini aku seperti tidak terkendali, ingin marah, benci, muak, ingin teriak, ingin bercerita, ingin mengeluh, aduhh ada apa ini, aku serasa tidak bisa mengendalikan diri ini, ya robb tolonglah... Bingung sendiri, sedih sendiri, tidak ada teman bercerita, tidak ada yang mengingatkan, pusing sendiri sadar sendiri, lalu marah lagi reda sendiri, lalu emosi sendiri dan lelah sendiri, semua kurasakan dan kulakukan sendiri.
Aku hanya berfikir kenapa semua ini bisa terjadi padaku, namun aku serasa berdosa berfikir seperti itu, kemudian tersenyum sendiri, ya sudahlah aku syukuri saja hidup ini. Hanya sekejap perasaan tenang datang, perasaan tidak enak kembali menyerang lebih lama dan lebih kerasan di tubuh ini. Aduh... dosakah aku untuk berkata aduh, mulutku terasa tidak terkendali, terkalahkan emosi, terkalahkan rasa ingin marah, aduh.. mulutku kembali tak mau dikendalikan, dan bicara begitu lagi.
Malam ini kulalui tanpa siapapun di dekatku, malam kemarin pun begitu, malam esok entahlah tapi 98 persen aku yakin akan seperti malam ini yang sepi dan sendiri, merasakan rasa tidak enak ini sendiri. Dosakah aku, tubuhku ini serasa tak terkendali, hati, fikiran, mata telinga, kaki tangan, ujung rambutku pun tak terkendali.
Ada satu sebab mengapa aku begini, namun aku tak kuasa untuk berbuat, aku tak kuasa untuk mencegah, rasa takut membuatku begini, intimidasi dari orang dekat, ancaman gagal dimasa depan yang menakutkan, aduh, kembali mulut ini tidak terkendali dan ngomong sendiri.
Marah aku pada diriku sendiri, marah aku pada orang disampingku, marah aku pada orang yang jauh dariku, aku marah pada semuanya. Berdosakah aku yang tidak terkendali ini?
Ingin ku tumpahkan air mata ini, namun logikaku mengatakan tidaklah pantas, perasaanku berontak untuk mngeluarkan air mata, logika berontak untuk berhenti bersedih dan lakukan apa yang bisa aku lakukan, mereka berdua bertengkar sendiri dan membiarkanku larut dalam kebingungan diriku sendiri, oh sungguh ingin ku mengatakan pusing, tapi aku malu dan takut akan ketagihan mengatakan itu kembali. Ingin ku bagi tubuh ini, seandainya ku mampu biar mereka berdua berjalan sendiri sendiri, tapi tidaklah Alloh menciptakan yang ada adalah yang terbaik namun kita tidak mengetahuinya.
Hanya satu tempat kita kembali, jika sudah seperti ini, akhirilah semuanya sekarang juga, atau biarkan semua tetap berjalan, tapi tetaplah diri ini harus kembali padanya.
Jika aku berdosa ampunilah aku ya Alloh, aku merasa tak mampu menahan semua ini, hanya pertolonganmu saja yang bisa membawaku ke jalanMu, astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah hal adziim, sesungguhnya Engkau maha pengampun segala dosaku.