Malam ini begitu melelahkan, dua hari ini pulang kerja malam terus, sampe rumah hampir jam 10 malam membuat mata ini serasa perih dan hampir tak kuat menahan kantuk. Seminggu yang lalu badan ini merasakan sakit mungkin karena kelelahan, seminggu ku jalani dengan fisik yang lemes, badan panas terkadang dingin, kepala terkadang pusing membuat tubuh serasa lelah dan lemah.
Memang dua hari ini sudah agak mendingan daripada kemaren kemaren, aku sudah mulai enak bekerja, namun kenyataanya seperti masih belum kuat untuk bekerja lama, apalagi hingga larut malam seperti ini. Aku hanya mencoba untuk bersabar dan menambah kekuatanku untuk menuju rumah selepas kerja. Sepanjang perjalanan di temani macet di hampir seluruh ruas jalan yang kulalui, siapa yang tidak tahu macetnya Jakarta. Untunglah minggu minggu kemaren liburan sekolah, ketika badan dalam kondisi lemas jalanan tidak terlalu macet seberangkat dan sepulang kerja. Tapi hari ini anak sekolah sudah mulai memadati jalanan, mobil pengantar dan penjemput mulai berlomba memenuhi jalanan, dan parahlan macetnya hingga larut malam begini, tak taulah apa masih ada anak sekolah selarut begini, hingga macetnya tak kunjung terurai di jam jam malam begini.
Tubuhku gontai di atas motor bututku itu, aku harus kuat, aku harus sampai rumah. Ku kuatkan perjalanan itu hingga tiba di rumah, alhamdulillah. Tetangga sudah gelap semua rumahnya, sepi dan dingin bekas hujan tadi sore menusuk tulang tulangku hingga hampir ke sumsum. Terasa lapar menyayat perut, tidak kutemukan makanan yang cocok untuk kondisiku saat ini yang sedang masa pemulihan dari sakitku. Dokter terlalu cerewet mengatur makanku, warung warung yang menyediakan makanan hingga semua makanan yang tinggal tersisa malam ini tak boleh kumakan semua, aku arus makan apa malam ini. Ah sudahlah lebih baik aku pulang dulu, ini terlalu larut untuk menunda lagi isya'ku. Aku juga harus pulang semakin malam akan semakin dingin kurasakan air menusuk nusuk tulangku ketika mandi nanti, aku sebaiknya harus pulang.
Ku bergegas mandi kemudian isyaan, handpone berdering, sejenak kuangkat sayup sayup suara jauh disana, sang kekasih menanyakan kabar, alhamdulillah aku baik saja. Tak taulah kenapa, malam ini sepertinya dia kelelahan mungkin hingga tak sadar ucapanya sedikit menyakiti perasaan kekasihnya ini. Aku hanya diam mendengar semua ucapannya, aku tak mau membalasnya, aku hanya bersedih dan berfikir, seandainya dia berada disini tentu takkan seperti ini kejadiannya, sabarkan hatiku dan hatinya ya Alloh.
Mataku semakin berkunang kunang, perut semakin tersayat lapar, tubuh semakin lemas kehabisan tenaga, aku hanya bisa berdoa lagi, berdoa untuk kekasihku, berdoa untuk buah hatiku, berdoa untuk orang tuaku dan terakhir berdoa untuk diriku. Kurasakan air mata jatuh tanpa terkendali membasahi pipi hingga bibirku. Sejenak kemudian tak tahu apa lagi yang terjadi, beberapa menit seperti ku kehilangan ingatan, namun tiba tiba pagi sudah datang, rupanya aku terlelap dalam lelah, rindu dan lapar, sabarkan aku ya Alloh.
No comments:
Post a Comment