Malam minggu yang sepi, menjelang maghrib hujan turun rintik-rintik, gelap, sedikit terang makin lama makin deras, makin lama makin malam. Hujan begitu derasnya bebarengan dengan lantunan adzan maghrib. Aku sedang menunggu untuk sholat maghrib, dengan tubuh lelah dan merebah. Usai sholat maghrib mata terasa berat, seharian bekerja walaupun tidak terlalu berat tapi begitu jauhnya perjalanan menjadikan benar-benar berat di kala sampai di rumah. Tertidur sudah tubuh ini secara tidak sengaja karena begitu lelahnya, karena begitu sepinya hati ini dan suasana memang benar benar sepi dan dingin malam ini, sehabis hujan.
Pukul sembilan ku terbangun dan tergaket, ternyata lelah telah menidurkan raga ini hingga benar-benar tak sadarkan diri, perut terasa dingin dan lapar, ah... aku juga belum sholat isya tentunya, tidur ini begitu enak hingga melupakan semuanya.
Usai isya ku berjalan menyusuri gang untuk mengisi perut yang lapar tak terkira, aku tak sanggup bila harus tertidur menahan lapar untuk ke sekian kalinya, kali ini bergitu dingin dan berat untuk melakukan yang biasa aku lakukan seperti itu, biarlah aku berjalan untuk mengisi perutku ini.
Rumah kontrakan begitu sepi pukul sepuluh malam, angin dingin bekas hujan seolah menyapu semua penghuni kampung, ke kasur dan kamar tidur masing-masing. Aku berjalan sendiri dari tadi tak kutemui seorangpun hingga sampai di rumah. Suara katak dan rombongan serangga menggoda seolah membawaku ke beberapa tahun silam ketika masih berkumpul dengan orang tua dan saudara, ketika masih bujangan belum menikah semua.
Mundur ke sebelas tahun yang lalu, ketika masih anak anak, ketika masih smp dan ketika masih sma. Rumah papan yang indah dan selalu ramai itu tak bisa terlupakan oleh kerasnya jakarta yang setiap hari ku lewati kujalani dan bikin pusing semua orang. Rumah papan itu yang aku dilahirkan dan dibesarkan disana keindahannya kini muncul kembali malam ini, oleh suara serangga dan katak sehabis hujan.
Dulu sehabis hujan suasana dingin membawaku untuk duduk sendiri di depan rumah papan itu, di kursi dari bambu yang hanya di bentangkan dan di paku kanan kiri itu, kadang di kursi kayu dari pohon yang besar yang di potong begitu saja dan di taruh di depan rumah dilengkapi batu empat biji agar tidak goyah, di situ ku habiskan malam dingin sehabis hujan, di depan rumah papan sewaktu kecil. Ku lamunkan apa yang melintas di pikiranku, cita-cita, obsesi, keinginan, sesuatu yang tak mungkin terjadi, sesuatu yang sudah terjadi, penyesalan, kegembiraan, naksir anak tetangga, rencana main bola, semua terjadi di kursi bambu dan kadang di kursi kayu asal-asalan itu. Malam begitu indah kurasakan, seolah tak ingin masuk rumah jika sudah begitu. Indah benar benar indah, memikirkan sesuatu asal-asalan di malam yang dingin, bersama suara serangga dan katak yang menghibur hati.
Kapan situasi seperti itu bisa terjadi kembali, mungkinkah, mana mungkin, bisa mungkin, pusinglah malam ini aku tak tahu, aku ingin situasi itu mungkin terjadi lagi.
No comments:
Post a Comment