Tuesday, January 17, 2012

Nasi Goreng dan Wanita Metropolitan

Kemaren setelah seharian muterin Jakarta, akhirnya di tutup sore harinya singgah di salah satu gedung baru yang cukup mewah dan tinggi yang terletak di kuningan, tepatnya dekat terowongan casablanca. Berdua dengan kawan, berboncengan cukup menghemat tenaga dan biaya kalo bisa seperti ini, cukup juga menghemat pikiran yang tidak tersita dengan strees karena kemacetan kota ini.

Sesampai di gedung itu sebentar beristirahat dan kemudian menjelang sholat maghrib, cukup ramai mushola yang terletak di besmen itu, meskipun yang terlihat yang sholat sepertinya hanya sopir dan karyawan karyawan cleaning servise saja, tapi cukup banyak didominasi mereka. Selepas sholat kami keluar untuk mencari pengganjal perut yang sedari pagi setengah siang baru di isi dan malem ini baru diisi lagi. Nasi goreng cukuplah jadi santapan yang murah tapi lumayan sedap, karena tidak ada pilihan lain yang cocok dengan kantong kami. Sehabis memesan dua piring kami lalu ngobrol sambil duduk menunggu nasi goreng yang sedang di proses sama abang nasi goreng.

Kawanku itu cukup sering datang kemari, sehingga cukup tahulah dia dengan sekitar situ, mengawali obrolannya dia membicarakan laki2 dan perempuan yang sedang duduk di seberang, di warung sate padang, mereka sepertinya terlihat cukup lama berada disana dan cukup ramai obrolanya. Tampang objek obrolan kami itu memang cukup wah... terlihat begitu kekotaaan penampilan mereka. Asik banget mereka, tapi koq tidak buru-buru ya... padahal sepertinya mereka belum sholat maghrib loh, kawanku itu berkomentar. Memang kami tadi sholat di awal sehabis adzan. Kemudian aku menimpali dengan berkomentar juga, coba aja tadi di mushola lu perhatiin ga? ada berapa orang cewe disana yang sholat. Cuma 5 orang, benar sekali, sedangkan gedung ini terlihat begitu lebih ramainya jumlah perempuannya di banding laki2nya, yang lain pada sholat dimana ya? Seandainya berhalanganpun berapa persen sih. Hm... temanku itu bertanya dan menjawab sendiri pertanyaanya yang dia tanyakan sendiri dengan pengamatannya.

Tragis, kemudian dia bilang, dan aku cuma mendengarkan. Kenapa bisa begini ya jaman sekarang, dia mulai lebih mengomentari perempuan menurut pandangan dia sendiri, dan aku hanya mendengarkan saja, dia memulai lagi. Cewe disini termasuk parah banget, aku masih mendengar dia, pakainnya lu liat deh, pergaulannya lu liat deh bebas banget kaya begitu ya. Apa mereka tidak tahu ya, padahal kalo lu tanya mereka agamanya apa, pastinya dia menjawab Islam, gua yakin banget kebanyakan mereka itu Islam, kawanku itu masih ngomong sendiri dan aku masih setia mendengarkan.

Bayangin aj pren, agama Islam tapi sepertinya mereka sama sekali ga make agamanya buat pergaulannya. Kemudian aku membalas, jangankan mereka yang tidak tahu, mereka yang tahu aj masih sengaja berbuat yang lebih parah. Hm...iya juga ya, kawanku itu mengiyakan ucapanku. Coba aja lu liat mereka yang kuliah di universitas Islam, mereka yang ngaji di pesantren, mereka yang sekolah di Aliyah atau Tsanawiah, mereka cewe2 yang sebenarnya tahu bagaimana bergaul bagaimana bersikap, bagaimana kesehariannya yang seharusnya benar menurut Islam, masih juga bergaul sesuka hati mereka, apalagi dengan mereka yang tidak tahu? Kawanku itu seperti bingung mencari kata-kata untuk melanjutkan pembicaraanya, dia kemudian hanya bisa berkata, sungguh berat ya ujian kehidupan di zaman akhir begini.

Tak terasa rupanya dari tadi kami mengobrol dan sudah menghabiskan nasi goreng, sudahlah mendingan kita masuk dan lanjutkan kerjaan kita saja, kataku. Dia menurut saja dan kemudian kami melanjutkan tugas kami dengan tetap di bebani pertanyaan dan seolah sebuah tanggung jawab yang tidak pernah kami tahu, siapa seharusnya yang menyelesaikan tanggung jawab itu. Hm...

No comments:

Post a Comment