Friday, January 13, 2012

Bukan Tidak Bersyukur

Hari kemarin memang begitu kosong, tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan, kosong seperti halnya rongga ban sepedaku, walaupun kosong hanya berisi angin tapi justru begitu malah bisa berjalan, kosong tapi tetap di bayar. Mau pulang siang juga ga enak, belum jamnya, ya sudah ngeluyur saja seperti ayam kehilangan induknya. Perjalan ngeluyur sedikit terganggu beberapa kali karena memang Jakarta tidak pernah sepi dari macet, di tambah gerimis yang datang suka-suka dia, walaupun matahari sedikit panas tapi gerimis juga ikut-ikutan mengguyur, tambah meriah deh macetnya jalanan Jakarta. Dari arah casablanca pikiranku menuju arah D*R/M*R, bukan untuk ikutan sidang paripurna tapi  memang ada kawan disana, aku ada perlu sedikit sama dia.
Melewati ujian macet dan gerimis akhirnya sampe juga disana, di pintu masuk cuma di tanya bawa apa mau kemana dan lolos deh, pengamanan di tempat seperti itu memang kurang, ini berbahaya bagi negara sebenarnya, tapi apa boleh buat, kita numpang cuma lewat. Parkir motor dan ngeluyur masuk, di pintu kedua cukup ucapkan username dan password, lagi lagi begitu gampangnya masuk kesana, ngeluyur lagi sampailah pada lantai tujuan, ketemu sama kawan. Alhamdulillah baik juga orangnya, baru duduk sudah langsung disediain teh manis panas, begitu cocok dengan dinginya ruangan disana dan di tambah musim hujan yang dingin begini.
Beberapa menit duduk kawanku yang satu ini langsung aja nerocos masalah SPSI di kantor, yang memang sekarang kurang menggigit seolah serigala yang kehilangan taringnya, cuma bisa mengendus kemudian menjilat saja, mengendus masalah dan menjilat supaya tetap tenang tidak terjadi apa-apa. Masalah penyesuaian UMR yang dia omongin, kenapa sampe tanggal begini tak kunjung ada penyesuaian UMR yang sudah naik beberapa persen itu. Ya memang benar, perusahaan memang harus menyesuaikan upah pegawainya kalau ada perubahan UMR, selain untuk menyesuaikan dengan inflasi tentu saja kerja beberapa tahun pegawainya harus tetap di hargai dengan tetap menjaga kesejahteraan pegawai-pegawainya, mudahnya biar gaji pegawai tidak ketinggalan mahalnya sama harga sayur-sayuran di pasar.
Memang ada ketidakadilan saat ini, pegawai yang baru masuk gajinya sudah menyamai bahkan ada yang melebihi pegawai yang sudah 20 puluhan tahun bekerja, gimana ini??? Memang benar kawanku itu, ketidakadilan menjadi faktor beberapa pegawai jadi kurang bersemngat kerja, bukannya para pegawai tidak bersyukur dengan  kondisi yang ada, bersyukur adalah suatu keharusan tapi ketidakadilan tetap harus di tegakkan, setidaknya begitu seharusnya, tidak diam saja ketika ada sesuatu yang tidak beres.
Sampai kapan ya? tidak di negara tidak di tempat kerja, begitu banyaknya ketidakadilan, bahkan beberapa saudara kita merasakan ketidakadilan dikeluarga, hmm, sampai kapan?

No comments:

Post a Comment