Hari ini sebenernya cape banget, betapa tidak dari Jakarta kemudian Lamongan kemudian Jombang bolak balik dari naik kereta, angkutan umum, motor dari jalanan besi sampai jalanan becek dan berbatu semua ku lewati, perjalanan sungguh melelahkan memakan waktu, biaya dan tenaga. Berangkat dari Jakarta jumat setelah sholat jumat, sampai stasiun kehabisan tiket dan rela berjejal jejalan asal sampai rumah, tidak dapat duduk, tidur sambil berdiri dan menekuk kaki sungguh menyiksa kawan. Sampai rumah membawa rasa kantuk yang berat, tapi alhamdulillah bisa menemui sang kekasih yang kondisinya sehat sehat saja, aku bahagia melihat sang kekasih yang lebih sumringah walaupun diriku ini kurus seolah tak terurus, hiks. Dua hari di Jombang asik sekali, sibuk, bersih bersih, bahagia tak terperi, mengetahui perkembangan si kecil yang insyaAlloh sebentar lagi segera lahir, alhamdulillah.
Pergi ke pasar beli perlengkapan yang di butuhkan, walaupun nggak semuanya tapi cukup yang penting penting saja, sepulangnya makan es campur, walaupun kata orang nggak boleh makan es campur, tapi nggak apalah sedikit saja, biar dia bahagia, hmm.
Dua hari berlalu saatnya untuk kembali dan berpisah lagi, hiks, sedih rasanya melihatnya berat melepas kepergianku, tapi ku berusaha kuat dan membuatnya merasa tidak di tinggalkan, sabar cintaku, abang akan kembali, hihihihi. Kembali menempuh perjalanan yang jauh dan berat, di stasiun ku menunggu kereta tiba, hujan deras seolah hampir setahun lamanya air tertahan di langit dan tumpah ruah semaunya sore itu. Ku berlari menghidari hujan dan menanyakan tiket mahal untuk kereta yang jelek itu. Aku harus rela membeli kursi supaya bisa beristirahat karena lelah sudah tak tertahan, kereta itu sudah penuh dan aku datang agak terlambat untuk beli tiket.
Kereta sore tiba, sesak sekali, ku lompat lewat jendela karena ku lihat tiada tertib di pintu masuk saling dorong, saling tarik segerombol orang berebut duluan masuk kereta tapi tak habis habis, ku tak sabar, kulompati saja jendela kereta yang terbuka, asik kudapatkan kursi yang sudah kubayar mahal. Hujan masih terus mengguyur menemani langkah roda kereta yang berisik. Ku mendapatkan duduk walaupun harus menekuk kaki lagi, tapi lumayanlah dari pada berdorong dorongan dengan penjual penjual dan pengamen itu.
Kali ini di kereta itu ku merasakan kesedihan mendalam harus meninggalkan sang kekasih, ku masih ingat bagaimana dia bolak balik di tengah malam ke kamar mandi, memang orang mengandung seperti itu, rasa lelah dan sakit yang di rasakan, ku membayangkan dia sendirian di setiap malam merasakan dan melalui seperti itu, sungguh tidak kuat rasaku ini melihat kekasihku seperti itu, ku hanya bisa sedikit memijit dan mendoakan untuknya supaya bersabar, dia hanya mengangguk dan tersenyum. Sungguh tak berarti diri ini, karena selalu berada jauh di kala dia merasakan membutuhkan, kuhanya bisa berjanji dalam hati akan kembali membuatmu tersenyum maafkan suamimu ini sayang.
Kembali fikiran fikiran akan tuntutan hatiku sendiri menghantui setiap hembusan nafasku di kereta sore itu. Orang tuaku yang masih sabar menanti di bahagiakan oleh putranya, seorang istri yang menunggu suaminya kembali, sungguh pilu hati ini, semuanya menjadi tanggung jawabku yang tak kunjung ku selesaikan, ya Alloh hambamu ini mohon ampun kepadaMu dan meminta pertolongan dariMu.
Dan hari ini kupaksakan diriku tetap bekerja, walaupun rasa lelah itu sidah begitu berat di pundakku.
Aku tak kuasa menahan sedihku di kereta sore itu, hatiku menangis walaupun bibirku sedang tersenyum.
No comments:
Post a Comment