Tuesday, December 22, 2015

Petang Hening

Lima menit lagi adzan magrib berkumandang, motor ku laju menuju masjid biasanya. Hari ini selasa sore di hari biasanya setelah magrib ada pengajian, tapi minggu lalu ustadz ijin tidak hadir, namun sore ini yang datang berjamaah tetap ramai seperti selasa-selasa sebelumnya di kala ada pengajian. Ambil wudu, masuk masjid, namun langkah kaki ini serasa berbeda.
Kurasakan diri ini sudah tua, sudah kepala tiga, dalam fikirku terlintas beginikan menjadi seorang tua, seorang bapak, seorang suami, seorang ayah. Ada kata-kata yang begitu ku fikirkan hingga saat ini, aku bingung, kata-kata yang di ucapkan istriku kemarin sore serasa menyadarkanku, tapi terkadang menyakitiku, bingung benar ku rasakan, aku harus bagaimana, masalah.
Ku lihat di sudut masjid seorang bapak tua, hanya duduk terdiam di kala orang lain mengambil tahiyyatal masjid, dia hanya terdiam tatapannya kosong, seolah aku merasakan apa yang bapak itu rasakan. Bahkan seolah yang kurasakan belum seberapa apa yang bapak itu rasakan, laki-laki yang terdiam.
Begitulah laki-laki, mereka akan terdiam, mereka tetap tenang, namun tak banyak yang dilakukan bila sedang banyak fikiran. Mereka membutuhkan waktu untuk menimbang, berfikir, menghitung apa yang akan dilakukan apa yang akan di dapatkan, seolah-olah mereka akan mendapatkan jawaban mendapatkan solusi masalah yang di hadapi, padahal kemudian hanya bersedih yang di rasakan.
Bergitulah kehidupan...

No comments:

Post a Comment