Saturday, September 18, 2010

Mati Dalam Rindu

Resah masih kurasakan, sudah empat hari kembali di Jakarta, memulai semua aktifitas kembali bekerja, pulang kerumah, dan bekerja lagi seperti hari-hari yang lalu, biasa dan biasa ga ada yang luar biasa. Sehabis lebaran Jakarta masih sepi, pikiran ini masih belum terlalu terasa ruwet, pikiran ini masih merasakan aroma wewangian bau desa, aroma hijau padi dan rerumputan masih tercium di pikiranku. Suasana desa yang kurasakan selama seminggu lebih sunggu sulit untuk dilupakan sampai sekarang. Keindahan dan ketenangannya terbawa sampai di Jakarta yang biasanya sumpek dan macet namun kali ini belum sesumpek dan semacet hari-hari sebelum lebaran.
Gak ada habisnya kalo memaparkan kelebihan-kelebihan desa tempatku tinggal, yang ada hanya membuat iri Jakarta yang sumpek dan ruwet saja. Hm...

Malam minggu ini sangat sepi di rumah kontrakan, tetangga yang baru, baru saja mengakhiri keributannya dengan segala macam perabot rumah dan barang-barang miliknya. Tetangga yang lain sudah senyap, terlihat gelap dan entah apa yang sedang mereka lakukan di dalam rumahnya bersama suami atau istri mereka, mungkin saja assoy kali. Ga tau lah. Tinggal tiga rumah yang masih hidup, yang sembilan sudah mati. Tetangga baru yang beres-beres rumahnya sebentar lagi selesai dan bersiap mengistirahatkan otot-otot dan mata mereka. Tetangga yang paling ujung dan paling senior sedang asik bermain gitar di terasnya yang gelap itu. Dan diriku yang sedang malam mingguan dan menikmati pacaran dengan laptop tuaku.
Tiap malam kurasakan sendirian empat hari terakhir ini. Yang tersayang masih tertinggal di kampung, menemani yang tersayang yang masih kecil dan sedang belajar merangkak, semoga mereka bahagia disana. Beginilah tiap malam, menghabiskan waktu dengan berpura-pura senang dan terkadang tertawa sendiri membaca kelucuan-kelucuan yang di tulis di blog di internet. Sebuah realita kebahagiaan palsu sedang kurasakan, sedang menyerang dan harus terpaksa kunikmati indahnya kesedihan kesepian. Sebuah dilema dalam hatiku, merasakan kesepian setiap malam sepulang kerja menjelang tidur. Selalu menghabiskan waktu dengan melamun dan berangan. Terkadang membohongi diri sendiri dengan kesibukan yang tiada habisnya dan kesibukan yang selalu menipu logikaku. Tapi biarlah asalkan kesedihan itu tidak terlalu kurasakan sakitnya.
Tapi siapa bilang, semakin aku membohongi perasaanku ini, semakin sakit kurasakan dan semakin bingung logikaku menerimanya. Semua kebahagiaan bohong yang ku katakan pada diriku semakin membuat sakit hati ini. Apa yang harus kulakukan, ini harus segera di atasi. Aku harus segera mengambil tindakan, aku harus segera menyusun rencana, aku harus segera berbuat, aku harus segera memutuskan, jika tidak ingin mati dalam kerinduan.

No comments:

Post a Comment