Beberapa bulan yang lalu dia berjanji harga-harga gak akan naik, malahan turun.
Dia juga berjanji listrik gak akan mahal, berjanji juga sekolah gak mahal.
Semua hanya dusta, dia terlanjur ku pilih dan sekarang sudah duduk enak di kursi yang empuk.
Kemana-mana bebas macet, ngalor ngidul dengan pengawalnya, sementara kami masih juga begini.
Terus terang sakit hati, hidup kami hanya begini begini ada kamu gak ada kamu sama saja.
Mendingan gausah kamu di duduk kursi itu, biarin aja kosong.
Kita sama-sama aja rame-rame disini, kita sama-sama aja kepanasan disini.
Mendingan kita sama-sama ngerasain mahalnya harga beras, mendingan kita sama-sama ngerasain macetnya jalanan.
Ngapain kamu disitu minta gaji gede kalo kerja ga becus, teriakan kami yang memilih kamu gak kamu dengar.
Rintihan kami merasakan miskinnya hidup di negeri kami yang kaya ini kamu hiraukan.
Janjimu palsu, kamu minta dipilih supaya kamu bisa duduk enak, menertawakan kami di jalanan yang macet.
Mengejek kami yang menghirup asap knalpot kemana-mana. Kamu ini gimana?
Kemarin anak tetanggaku menangis gara-gara ga minum susu.
Apa pedulimu pada kami, padahal kami yang nggaji kamu.
Padahal mobil yang kamu kendarai itu keringat kami, pajak kami.
Sedikitpun kamu tidak menyadari, kapan kamu bisa merubah bangsa kami yang miskin di negeri yang kaya ini.
No comments:
Post a Comment