Saturday, August 21, 2010

Menyiksa Rakyat

Tiket kereta sudah habis, bingung mau nyari tiket kemana lagi buat mudik tahun ini, tiketnya banyak tapi peminatnya jauh lebih banyak jadi sebentar dibuka loketnya tiket langsung habis sementara yang ngantri dan gak kebagian jumlahnya hampir tiga kali lipat dari pada yang kebagian tiket di hari itu, belum lagi pengantri-pengantri besok pasti lebih banyak yang gak kebagian tiket.
Kereta api jadi rebutan di bulan-bulan begini, mau mudik naek kereta, bukannya ga ada pilihan lain, tapi keterpaksaan. Banyak hal yang menjadi alasan kenapa harus kereta api, salah satu alasan yang paling gampang adalah murah, ya naik kereta lebih murah dari pada pilihan lain. Walaupun resikonya besar saat berjubelan berebut naik, copet, sumpek, gerah, panas ga masalah yang penting dapat yang sesuai isi kantong.

Kereta pun pilih-pilih tentunya ga semua kereta jadi rebutan, eksekutif tentu mahal dan hanya yang tebel kantongnya saja yang bisa beli, bisnis bisa menjadi alternatif tapi sudah pasti nggak ada lagi tiketnya saat ini, ekonomi jadi rebutan, walaupun keretanya kereta rongsokan, penumpangnya berjubelan, jalannya lelet masih juga banyak yang berminat, tentu saja bukannya asik naik kereta ekonomi tapi lagi-lagi suatu keterpaksaan.
Saya jadi berangan-angan atau tepatnya melamun seandainya presiden, mentri-mentrinya, anggota DPR/MPR atau siapa saja yang bertanggung jawab dalam hal ini, ikut berdesakan berebut kereta ekonomi???
Mudik naek kereta ekonomi sungguh suatu siksaan, kapasitas kereta yang terbatas tapi di muati tanpa batas. Kursi-kursi penuh itu sudah pasti, penumpang berdiri duduk disembarang tempat, sambungan kereta penuh, pintu masuk dan keluar penuh, kamar mandi juga penuh. Gak ada lagi ruangan tersiksa, barangkali seekor coropun dijamin gak akan bisa lewat. Pengamen mondar-mandir, ibu-ibu dan mbak-mbak penjual kopi dan nasi bungkus, om-om penjual rokok dan penjual air botolan ikut menambah sesaknya suasana kereta ekonomi. Jakarta, cirebon, semarang hingga surabaya di lalui dengan situasi seperti itu, sangat membutuhkan kekuatan dan ketahanan tubuh yang ekstra dan menyiksa. Kondisi seperti ini setiap tahun pasti terjadi dan berulangkali terjadi, gak ada yang bisa mencegah gak ada yang bisa kasih solusi dan gak ada yang peduli, penumpang-penumpang miskin itu benar-benar tersiksa.
Negara ini memang aneh pemerintahnya, ga tau aneh atau ga peduli atau barangkali telinga-telinga mereka sudah lama tuli sehingga jeritan-jeritan tak lagi terdengar telinga mereka. Mata mereka juga sudah lama buram penglihatannya mulut berteriak minta tolong dikirannya tertawa bahagia, benar-benar ga peduli. Rasanya ini sebuah kebodohan yang dibiarkan, kebodohan yang berulang dan berulang terjadi, pemerintah ini benar-benar gak pinter barangkali ga bisa ngurusin tanggung jawabnya. Negara ini rasanya ga akan ada bedanya dengan atau tanpa pemerintah.

No comments:

Post a Comment