Sesampai di rumah kosnya Amir menjatuhkan tubuhnya di tikar lusuh yang sehari hari ia gunakan tidur, tubuhnya terasa menggigil oleh dinginya malam, perjalanan di temani gerimis membuat tubuhnya kedinginan. Sekeluar dari musholla sehabis magrib di perjalanan gerimis agak menjadi membuat baju celana semakin lepek setiba di kos-kosan. Alhamdulillah perut masih belum terasa lapar sore ini, tadi siang yang punya rumah mampir untuk melihat rumahnya yang sedang diperbaiki dan membawa sedikit makanan, baik sekali bapak itu, lain sekali dengan mandor kerjaku yang suka seenaknya sama anak buah terutama pada teman-teman Amir yang terlihat mata mengambil istirahat terlalu lama di waktu dluhur atau ashar.
Sambil rebahan sore itu meneteslah air mata Amir, sudah hampir setahun ia tidak lagi melihat putri pertamanya sejak terakhir kali ia pulang pada saat istrinya melahirkan. Ia begitu merasakan kerinduan mendalam pada keluarganya, ia begitu ingin mendengar tawa atau tangisan putri kecilnya, ia begitu ingin menyentuh jari jemari putri kecilnya yang tidak ia ketahui sejauh mana saat ini pertumbuhan putrinya. Ia berdoa disela kerinduanya untuk diberikan kesabaran yang lebih menghadapi semua ujianya.
Bila pagi tiba ia bergelut dengan beratnya pekerjaan, jauhnya perjalanan, dan terkadang ia harus menahan semuanya dalam kondisi berpuasa. Dan dikala sore ia disiksa dengan kerinduannya pada putrinya. Walapun sehari hari Amir merasakan beratnya kehidupannya ia selalu bersabar dan menyembunyikan semuanya dalam senyum palsunya, tapi untuk menahan kerinduan pada putri kecilnya ia tak pernah kuat.
Begitulah kesabaran seorang Amir kawanku, semoga semuanya segera berakhir teman, bersabarlah.
No comments:
Post a Comment