Tuesday, June 1, 2010

Perjalanan Menuju Kesedihan

Ku terus berusaha untuk menutup mataku sore itu, benar-benar tak ingin pikiran ini terbawa terbayang senyum senyum manis anak ku canda tawa istriku. Sadar diri ini bila bila tak segera tertidur maka pikiran ini akan terbawa menuju hal-hal yang hanya akan membuatku bertambah bingung dan tak karuan rasanya.
Sore itu kereta yang sesak yang ku tumpangi membawaku kembali jauh dari keluargaku, dari anakku yang hanya ku lihat senyumnya sebulan sekali bahkan terkadang bisa dua bulan atau lebih baru ku lihat kembali senyumannya. Jam 04.45 sore itu bersama gerismis bercampur berisiknya roda roda gerbong kereta di tambah nada sumbang pengamen kereta, penjual-penjual yang bersautan menawarkan barangnya, kurasakan sesak pilu itu kembali menusuk-nusuk hatiku. Aku harus meninggalkan kembali kebahagiaan yang hanya tiga hari kurasakan bersama anak dan istriku.


Seiring dengan tenggelamnya matahari tenggelam pula harapanku untuk merasakan kebahagiaan itu lebih lama, ku harus kembali mendatangi kewajibanku sebagai seorang yang dengan beban berat dan lebih lagi kesendirian yang mau tidak mau harus kurasakan. Senyuman dan tangisan putriku itu terus mengusik ketenangan jiwaku, membuatku ingin menangis namun kutahan, berlebih lagi kondisinya beberapa hari belakangan tubuhnya lebih kurus karena sakit membuat hatiku semakin tak kuasa menahan tangis yang masih ku tahan. Aku benar benar merasakan kegalauan yang hampir tak kuasa aku menahannya.
Mencoba untuk melupakan semua itu dengan memanfaatkan kondisi di sekitarku, ku berpura-pura tertawa tatkala menyimak obrolan tetangga satu gerbong yang bercanda kurang lucu, ku berpura-pura menikmati alunan musik pengamen yang mengganggu telingaku, dan lagi-lagi aku masih berpura-pura menikmati pecel kereta yang rasanya tak karuan di banding masakan istriku. Aku masih gagal melupakan kegalauan itu, tawa putriku bersama ibunya masih terus membayang di otakku.
Sejenak kondektur lewat dan memeriksa tiket murah yang tadi aku beli lewat pesanan di stasiun, aku lupa menaruhnya dimana, aku panik, aku rogoh saku celanaku tak kutemukan, aku periksa semua kantung tas ku, tak juga kutemukan. Wajah kondektur semakin curiga menatapku dan masih juga menungguiku seakan-akan mau memangsaku, dan aku masih panik. Untunglah segera ku ingat, rupanya aku menaruhnya di dompetku tadi sewaktu tukang karcis di stasiun memberikan uang kembalian sepuluh ribu dari tiket seharga empat puluh ribu yang ku beli. Wajah kondektur itu tampak kecewa karena aku menemukan karcis keretaku. Tragedi tiket itu membuatku sedikit melupakan kegalauan hatiku.
Remang-remang sore menjelang maghrib pemandangan di luar kereta lumayan indah, hamparan sawah dan rumah-rumah yang nampak bergerombol menambah haru suasana hatiku, kembali kegalauan ini bangkit menggoda hatiku, senyum anak dan istriku kembali membuatku bersedih. Aku mencoba untuk melupakan kegalauan itu dengan menutup mataku, aku hanya ingin tertidur biar tak kurasakan kegalauan itu.
Semalaman di kereta menuju Jakarta aku benar benar hanya ingin tertidur, kuhiraukan semua peristiwa di kereta, sesekali aku terbangun oleh kondektur dan pedagang kereta namun kemudian aku tidur lagi. Aku benar benar hanya ingin tidur malam itu, sebenarnya mata ini sudahlah sangat cukup istirahat, tapi tetap saja kupaksakan untuk tidur.
Pagi sesampai di Jakarta kurasakan kembali atmosfir kehidupan yang begitu keras, teriakan pengamen memekikan telinga, paksaan anak anak pengemis agar korbannya mengeluarkan "seratus dua ratus rupiah" untuknya, pemulung yang menyerobot botol minuman yang masih ingin ku minum begitu menjengkelkan dan tak bisa di cegah. Perjalan dua jam menuju kontrakan di metromini begitu sesaknya, sesampai di terminal aku pindah angkot menuju rumah kontrakanku. Huh rumah ini begitu kotor berdebu, kulihat barang-barang berserakan, tak seperti biasanya ketika istriku masih disini, begitu rapi begitu bersih.
Ku rebahkan diriku di kasur yang sebelum aku pulang istriku masih sempat mengganti spreinya, kurasakan bau sprei itu wangi mengingatkanku akan kebahagiaan saat bersama putriku dan istriku, hati ini semakin menangis, hati ini hanya bisa berpasrah, kapankah semua ini bisa segera berakhir, ya robb aku akan berusaha menjadi yang terbaik agar semua ini bisa segera berubah.
Ridhoi hambamu ini ya Alloh, amiiin.

No comments:

Post a Comment