Sudah hampir 3 minggu tidak di Jakarta lagi, ya sejak tanggal 24 desember 2012 kami terbang meninggalkan Jakarta, sungguh sedih dan senang hal itu bisa terjadi. Sekian tahun lamanya di Jakarta, penuh susah, penuh senang, penuh haru, penuh jengkel, dan banyak lagi, begitu banyak kenangan di Jakarta.
Masih ingat pertama kali tiba di Jakarta, di tahun 2006 bulan mei kalo nggak salah tepatnya tanggal 1 di akhir minggu. Bujang, lontang lantung bingung harus ngapain, harus kemana, berdua, tidak ada saudara atau kerabat, hanya punya nomer hp teman yang sudah lama tak jumpa, lewat sms dia bilang mau mengantar kmana kita mau persisnya hanya memberi tahu harus naik apa dan naik apa, begitulah, kerasnya kehidupan Jakarta yang diceritakan orang yang sudah pernah kesana membuat kami harap maklum, meskipun seorang teman, tapi terimakasih juga karena sudah memberi petunjuk perjalanan kami.
Pelan dan pasti kami bekerja di sebuah perusahaan swasta, sering kami berjalan kaki menuju tempat kerja meskipun jaraknya cukup jauh, keringat yang bercucuran akan habis di terpa AC ruangan tempat kami bekerja, setiap pagi dengan sepatu proyek yang cukup berat di jinjing kaki, lecet dan panas seluruh telapak kaki, begitulah awal di Jakarta harus berhemat sehemat mungkin bisa di hemat dan di simpan karena gaji pertama belum kunjung datang, uang menipis sangat tipis. Begitulah bulan-bulan kami lewati. DI penghujung 2006 terpaksa teman yang mengajakku ke Jakarta terlampau cepat meninggalkanku, seolah teman itu hanya mengantarku menuju tersesat di Jakarta, untung saja aku sudah bisa sendiri dan berjalan menghadapi jakarta, selamat berpisah kawan lanjutkan cita-citamu terimakasih sudah menyesatkanku di Jakarta.
Di Jakarta pernah jatuh cinta, cinta monyet, terlampau tidak mungkin dan terlampau jauh cinta, kandas dan tidak patut di kenang hanya cukup jadi bagian hidup ini yang hampir terlupakan. Cinta silih berganti hanya lewat tak ada yang nyantol sedikitpun, cinta memilih yang cocok yang sesuai dan tentu saja yang mau.
Dua tahun lewat di jakarta hampir tiga tahun (2007-2008) cinta yang datang awalnya berat dan menantang, sepertinya tidak mungkin, namun sunah rasul di usia 25 sudah menjadi niatan alhamdulillah semua berjalan lancar, cinta kutemukan cinta kusambungkan.
Menikah dan berkeluarga rata-rata menjadi cita-cita, begitu juga diriku di awal pernikahan begitu bahagia itu sudah biasa kemudian di lanjutkan pertengkaran-pertengkaran kecil kemudian pertengkaran besar itu juga sudah biasa, bagi kami itu adalah suatu pembelajaran untuk saling mengerti dan memahami, bukanlah hal buruk itulah komitmen kami di awal pernikahan, alhamdulilah kami sudah siap menghadapi badai keluarga. Begitu banyak kenangan kami di awal pernikahan di Jakarta. Kehidupan terus berlanjut bagi kami, membicarakan masa depan merancang 5 tahun, 10 tahun, dan bertahun tahun kemudian kami bicarakan akan bagaimana. Salah satunya adalah hari ini, dimana kami sudah bisa melewati salah satu rencana untuk kembali dekat dengan keluarga, terutama dekat dengan anak kami yang harus selalu mendapatkan kasih sayang orang tuanya terutama. Rencana ini menjadikan kami terpaksa meninggalkan kota Jakarta yang hampir sudah bisa kami taklukkan, yang meninggalkan banyak kenangan, yang menyisakan banyak tawa, suka, airmata.
Di jakarta kami pernah menangis berdua entah sebab apa yang tidak jelas, kami juga pernah saling membuat tangis entah sebab hal apa, pernah juga tawa yang riuh entah sebab apa, begitu banyak pelajaran begitu banyak kenangan. Rutinitas kerja bangun pagi, sholat subuh, beli sayur, memasak pagi, sarapan, berangkat kerja, pulang kerja, sholat berjamaah, berebut internet, dowloan lagu, mengantuk hingga tertidur begitu detailnya dan jelasnya masih di ingatan ini, indah menjadi kenangan. Di saat libur kerja begitu banyak hal kami lakukan pergi kepasar ciputat, beli siomay, beli mi ayam beli bakso, beli baju, pergi ke basar pagi atau basar malam, beli beras, pergi kuliah jemput kuliah, sungguh indahnya hal yang tak mungkin bisa terulang itu.
Jakarta menyisakan banyak kenangan, menyisakan banyak teman. Hmmm sore ini di saat ku menuliskan ini, begitu rindunya diri ini saat saat sarapan pagi dengan sambal terong dan ikan teri dan tempe kukus yang di penyet, berdua, sepiring berdua sama istri tercinta, maafkan aku hingga begitu banyak kenangan bersamamu.
Masih ingat pertama kali tiba di Jakarta, di tahun 2006 bulan mei kalo nggak salah tepatnya tanggal 1 di akhir minggu. Bujang, lontang lantung bingung harus ngapain, harus kemana, berdua, tidak ada saudara atau kerabat, hanya punya nomer hp teman yang sudah lama tak jumpa, lewat sms dia bilang mau mengantar kmana kita mau persisnya hanya memberi tahu harus naik apa dan naik apa, begitulah, kerasnya kehidupan Jakarta yang diceritakan orang yang sudah pernah kesana membuat kami harap maklum, meskipun seorang teman, tapi terimakasih juga karena sudah memberi petunjuk perjalanan kami.
Pelan dan pasti kami bekerja di sebuah perusahaan swasta, sering kami berjalan kaki menuju tempat kerja meskipun jaraknya cukup jauh, keringat yang bercucuran akan habis di terpa AC ruangan tempat kami bekerja, setiap pagi dengan sepatu proyek yang cukup berat di jinjing kaki, lecet dan panas seluruh telapak kaki, begitulah awal di Jakarta harus berhemat sehemat mungkin bisa di hemat dan di simpan karena gaji pertama belum kunjung datang, uang menipis sangat tipis. Begitulah bulan-bulan kami lewati. DI penghujung 2006 terpaksa teman yang mengajakku ke Jakarta terlampau cepat meninggalkanku, seolah teman itu hanya mengantarku menuju tersesat di Jakarta, untung saja aku sudah bisa sendiri dan berjalan menghadapi jakarta, selamat berpisah kawan lanjutkan cita-citamu terimakasih sudah menyesatkanku di Jakarta.
Di Jakarta pernah jatuh cinta, cinta monyet, terlampau tidak mungkin dan terlampau jauh cinta, kandas dan tidak patut di kenang hanya cukup jadi bagian hidup ini yang hampir terlupakan. Cinta silih berganti hanya lewat tak ada yang nyantol sedikitpun, cinta memilih yang cocok yang sesuai dan tentu saja yang mau.
Dua tahun lewat di jakarta hampir tiga tahun (2007-2008) cinta yang datang awalnya berat dan menantang, sepertinya tidak mungkin, namun sunah rasul di usia 25 sudah menjadi niatan alhamdulillah semua berjalan lancar, cinta kutemukan cinta kusambungkan.
Menikah dan berkeluarga rata-rata menjadi cita-cita, begitu juga diriku di awal pernikahan begitu bahagia itu sudah biasa kemudian di lanjutkan pertengkaran-pertengkaran kecil kemudian pertengkaran besar itu juga sudah biasa, bagi kami itu adalah suatu pembelajaran untuk saling mengerti dan memahami, bukanlah hal buruk itulah komitmen kami di awal pernikahan, alhamdulilah kami sudah siap menghadapi badai keluarga. Begitu banyak kenangan kami di awal pernikahan di Jakarta. Kehidupan terus berlanjut bagi kami, membicarakan masa depan merancang 5 tahun, 10 tahun, dan bertahun tahun kemudian kami bicarakan akan bagaimana. Salah satunya adalah hari ini, dimana kami sudah bisa melewati salah satu rencana untuk kembali dekat dengan keluarga, terutama dekat dengan anak kami yang harus selalu mendapatkan kasih sayang orang tuanya terutama. Rencana ini menjadikan kami terpaksa meninggalkan kota Jakarta yang hampir sudah bisa kami taklukkan, yang meninggalkan banyak kenangan, yang menyisakan banyak tawa, suka, airmata.
Di jakarta kami pernah menangis berdua entah sebab apa yang tidak jelas, kami juga pernah saling membuat tangis entah sebab hal apa, pernah juga tawa yang riuh entah sebab apa, begitu banyak pelajaran begitu banyak kenangan. Rutinitas kerja bangun pagi, sholat subuh, beli sayur, memasak pagi, sarapan, berangkat kerja, pulang kerja, sholat berjamaah, berebut internet, dowloan lagu, mengantuk hingga tertidur begitu detailnya dan jelasnya masih di ingatan ini, indah menjadi kenangan. Di saat libur kerja begitu banyak hal kami lakukan pergi kepasar ciputat, beli siomay, beli mi ayam beli bakso, beli baju, pergi ke basar pagi atau basar malam, beli beras, pergi kuliah jemput kuliah, sungguh indahnya hal yang tak mungkin bisa terulang itu.
Jakarta menyisakan banyak kenangan, menyisakan banyak teman. Hmmm sore ini di saat ku menuliskan ini, begitu rindunya diri ini saat saat sarapan pagi dengan sambal terong dan ikan teri dan tempe kukus yang di penyet, berdua, sepiring berdua sama istri tercinta, maafkan aku hingga begitu banyak kenangan bersamamu.
No comments:
Post a Comment